Mafindo Dorong Generasi Muda Kritis Hadapi Hoaks

  • 11 Apr 2026 18:00 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat memunculkan pertanyaan penting: apakah generasi muda saat ini benar-benar lebih kebal terhadap hoaks? Pertanyaan ini menjadi bahasan utama dalam siniar Keker RRI Ambon pada tanggal 30 Maret 2026 bersama M. Sahril Salamena, Ketua Tim Periksa Fakta Mafindo Maluku.

Dalam perbincangan tersebut, Sahril menegaskan bahwa kemajuan teknologi, termasuk AI, memang memberikan kemudahan akses informasi bagi anak muda. Namun, hal itu tidak otomatis membuat mereka kebal terhadap penyebaran hoaks. “Generasi muda justru menjadi kelompok yang sangat aktif dalam arus informasi digital, sehingga tetap rentan jika tidak dibekali literasi yang cukup,” ujarnya.

Mafindo sendiri bukan sekadar komunitas nasional, melainkan bagian dari jaringan internasional pemeriksa fakta. Organisasi ini berperan aktif dalam memerangi misinformasi melalui berbagai kegiatan edukatif dan verifikasi informasi.

Di Maluku, Mafindo menjalankan sejumlah program, mulai dari literasi digital terkait penggunaan gawai, media sosial, hingga pemahaman terhadap berbagai platform digital. Selain itu, Mafindo juga secara aktif melakukan cek fakta terhadap informasi yang beredar di masyarakat, khususnya di media sosial, untuk memastikan apakah informasi tersebut benar atau termasuk hoaks.

“Cek fakta menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas informasi publik. Kami tidak hanya mengedukasi, tetapi juga langsung terlibat dalam proses verifikasi berita,” ujar Sahril.

Saat ini, anggota Mafindo di Maluku terdiri dari sekitar 40 hingga 50 relawan yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota. Para relawan ini bekerja secara kolaboratif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya memilah informasi.

Dalam konteks generasi AI, Sahril menekankan bahwa kecanggihan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis. AI dapat membantu dalam banyak hal, tetapi juga berpotensi digunakan untuk menciptakan informasi yang menyesatkan.

Oleh karena itu, literasi digital tetap menjadi kunci utama. Generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi penyaring informasi yang cerdas di tengah derasnya arus digital.

Siniar ini menjadi pengingat bahwa di era AI, ketahanan terhadap hoaks bukan hanya soal usia atau kedekatan dengan teknologi, melainkan tentang kesadaran, edukasi, dan kemampuan kritis dalam memahami informasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....