Gangguan Geopolitik Timur tengah Ancam Stabilitas Pariwisata Indonesia

  • 10 Apr 2026 12:59 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon — Konflik geopolitik global yang memanas di kawasan Timur Tengah kembali memberikan dampak signifikan terhadap konektivitas udara internasional. Penutupan wilayah udara Iran pada periode Februari hingga Maret 2026 menjadi salah satu contoh nyata bagaimana dinamika politik global dapat langsung memukul sektor pariwisata dunia, termasuk Indonesia.

Pengamat Ekonomi Kreatif, Budaya dan Pariwisata, Harry Waluyo, mencatat bahwa gangguan tersebut telah menyebabkan pembatalan sekitar 770 penerbangan internasional. Dampaknya tidak hanya dirasakan maskapai penerbangan, tetapi juga merembet pada industri pariwisata yang kehilangan sekitar 60.000 wisatawan mancanegara dalam waktu singkat.

Menurutnya, hilangnya kunjungan wisatawan tersebut berimplikasi langsung terhadap potensi devisa negara. Estimasi kerugian mencapai sekitar Rp2,04 triliun, angka yang cukup besar dan menunjukkan betapa rentannya sektor pariwisata terhadap dinamika eksternal yang berada di luar kendali nasional.

Harry menjelaskan, posisi Indonesia dalam situasi ini bersifat asimetris secara strategis. Artinya, Indonesia terdampak cukup besar oleh krisis global, namun tidak memiliki kendali langsung terhadap sumber konflik yang terjadi. Kondisi ini memperlihatkan adanya ketergantungan tinggi terhadap stabilitas global, khususnya dalam sektor transportasi udara.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa tanpa intervensi kebijakan yang cepat dan tepat, sektor pariwisata nasional berisiko mengalami guncangan berulang atau systemic vulnerability. Gangguan yang terjadi bukan lagi bersifat insidental, tetapi berpotensi menjadi pola berulang akibat ketidakpastian geopolitik global yang semakin meningkat.

Untuk itu, diperlukan perubahan pendekatan dalam pengelolaan sektor pariwisata. Selama ini, strategi yang diterapkan cenderung bersifat pasif dengan mengandalkan ketahanan (resilience). Namun ke depan, Indonesia perlu bertransformasi menuju manajemen krisis aktif yang berbasis pada analisis geopolitik dan mitigasi risiko global.

Harry Waluyo menegaskan, langkah ini penting agar Indonesia tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga adaptif dan responsif terhadap perubahan global. Dengan strategi yang lebih proaktif, sektor pariwisata diharapkan tetap tumbuh meskipun berada di tengah ketidakpastian geopolitik dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....