Momentum Nyepi dan Idulfitri Pererat Kerukunan Umat di Maluku
- 19 Mar 2026 11:11 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon- Kota Ambon kembali membuktikan diri sebagai laboratorium perdamaian terbaik di Indonesia.
Menjelang perayaan Hari Raya Nyepi yang jatuh berdekatan dengan momentum Idulfitri 2026, kemeriahan pawai ogoh-ogoh di depan Gong Perdamaian Dunia, Rabu, 18 Maret 2026 sukses menyedot perhatian warga dan memperkuat pesan moderasi beragama.
Bukan sekadar parade budaya, kehadiran boneka raksasa simbol sifat negatif manusia ini menjadi pengingat penting bagi seluruh warga Maluku tentang arti pengendalian diri.
Dalam pawai tersebut, sosok Buto Ijo dan Buto Lari diarak sebagai simbol nafsu liar, keserakahan, dan ego yang besar. Pesannya jelas: konflik sering kali lahir dari ketidakmampuan manusia mengendalikan diri sendiri.
"Ogoh-ogoh bukan untuk dipuja, melainkan sarana introspeksi diri untuk membersihkan hati dan pikiran," ujar Kakanwil Kemenag Maluku, H. Yamin.
Ia menegaskan bahwa nilai ini sangat sejalan dengan semangat Idulfitri yang menekankan kesucian hati dan saling memaafkan.
Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, yang hadir dalam acara tersebut, menyebut momen berdekatannya dua hari besar ini sebagai anugerah istimewa bagi bangsa yang majemuk.
"Ini menunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang kaya. Perbedaan keyakinan bukanlah pemisah, melainkan kekuatan yang memperkuat persatuan kita di Maluku," tegas Gubernur Hendrik dalam sambutannya yang disambut hangat masyarakat.
Melalui semangat "Beta Par Ambon, Ambon Par Samua", perayaan Nyepi tahun ini menjadi ruang edukasi bagi publik.
Saat umat Hindu menjalani refleksi sunyi dalam Nyepi dan umat Islam bersiap menyambut kemenangan Idulfitri, keduanya bertemu pada satu titik: menjadi pribadi yang lebih baik.
Suasana tertib dan penuh persaudaraan selama pawai berlangsung menjadi bukti nyata bahwa Maluku sangat siap menjaga kerukunan dan kedamaian di tengah keberagaman yang ada.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....