Ketika Scroll Lebih Menarik dari Buku
- 27 Jan 2026 18:50 WIB
- Ambon
Penulis : Nur Abida Tuasamu, S.Pd (Duta Baca Kab. Buru)
RRI.CO.ID, Ambon - Minat baca merupakan fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing. Namun, di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, budaya membaca menghadapi tantangan serius, termasuk di Kabupaten Buru.
Anak-anak dan remaja kini lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget, mengakses media sosial seperti TikTok dan CapCut, serta bermain game online, dibandingkan membaca buku sebagai sumber pengetahuan.
Kondisi ini sejalan dengan data Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) yang mencatat bahwa Tingkat Gemar Membaca (TGM) masyarakat Provinsi Maluku pada tahun 2024 berada pada angka 62,58, masuk dalam kategori sedang dan menempatkan Maluku di peringkat ke-31 dari 38 provinsi di Indonesia.
Data tersebut menjadi pengingat bahwa penguatan budaya literasi masih membutuhkan perhatian serius dan kerja bersama yang berkelanjutan, termasuk di Kabupaten Buru.
Dominasi konten digital yang bersifat instan telah menggeser kebiasaan membaca yang membutuhkan konsentrasi dan daya nalar. Dampaknya terlihat pada menurunnya kemampuan memahami bacaan, menulis secara runtut, serta berpikir kritis peserta didik.
Minimnya keteladanan membaca di lingkungan keluarga serta belum optimalnya pemanfaatan fasilitas literasi turut mempercepat melemahnya budaya membaca di masyarakat.
Di tengah tantangan tersebut, geliat literasi di Kabupaten Buru menunjukkan perkembangan yang semakin positif. Perpustakaan Daerah Kabupaten Buru mulai mengambil peran strategis melalui berbagai program promosi literasi yang terarah dan berkelanjutan.
| Baca juga: English Corner Hadir di Pro 2 RRI Ambon |
Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Perpustakaan Daerah dengan sekolah dan madrasah, yang bertujuan menggeliatkan budaya gemar membaca di kalangan siswa sekaligus menambah koleksi bacaan di sekolah dan madrasah.
Upaya tersebut diperkuat dengan kehadiran mobil perpustakaan keliling yang mengunjungi sekolah, madrasah, serta sejumlah area publik. Layanan ini menjadi solusi efektif dalam memperluas akses bacaan, khususnya bagi wilayah yang memiliki keterbatasan fasilitas perpustakaan permanen.
Selain itu, peran penggiat literasi di Kabupaten Buru juga memberikan kontribusi nyata. Berbagai komunitas dan individu menyediakan koleksi bacaan di ruang-ruang publik seperti taman, balai desa, dan area layanan masyarakat. Inisiatif ini menunjukkan bahwa literasi tumbuh sebagai gerakan bersama, tidak hanya bertumpu pada peran pemerintah.
Penguatan budaya membaca juga dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai organisasi wanita dalam program Gemar Membaca yang pernah dicanangkan di Kabupaten Buru.
Organisasi wanita berperan penting dalam menumbuhkan kebiasaan membaca di lingkungan keluarga, mendampingi anak-anak, serta menjadikan rumah sebagai ruang awal pengenalan literasi. Peran perempuan sebagai pendidik pertama dalam keluarga menjadi kekuatan strategis dalam membangun generasi pembelajar.
Sebagai bagian dari strategi penguatan literasi, Perpustakaan Daerah Kabupaten Buru juga menyelenggarakan pemilihan Duta Baca Kabupaten Buru. Duta Baca diharapkan menjadi figur inspiratif sekaligus agen perubahan yang aktif mengampanyekan budaya membaca dan menggerakkan komunitas literasi.
Duta Baca Kabupaten Buru yang terpilih adalah Ibu Nur Abida Tuasamu, S.Pd., seorang guru Bahasa Inggris, yang mengajar di MTs. Alhilaal Namlea. Kehadiran Duta Baca dari kalangan pendidik madrasah ini, menjadi simbol kuat kolaborasi antara dunia pendidikan dan gerakan literasi daerah, sekaligus diharapkan mampu memberi teladan langsung kepada peserta didik dan masyarakat.
Di lingkungan pendidikan keagamaan, Kementerian Agama melalui madrasah memiliki posisi strategis dalam menanamkan budaya literasi yang selaras dengan nilai-nilai keimanan dan akhlak. Penguatan Gerakan Literasi madrasah, pembiasaan membaca sebelum pembelajaran, serta integrasi literasi dengan kearifan lokal dan moderasi beragama menjadi langkah nyata dalam membentuk generasi yang cerdas secara intelektual dan matang secara spiritual.
Teknologi digital pun perlu disikapi secara bijak. Gadget tidak sepenuhnya menjadi ancaman apabila diarahkan sebagai sarana literasi digital, seperti membaca buku elektronik dan mengakses perpustakaan digital. Dengan pendampingan guru dan orang tua, teknologi justru dapat menjadi jembatan untuk meningkatkan minat baca generasi muda.
Mengembangkan minat baca di Kabupaten Buru membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah daerah, Perpustakaan Daerah, Kementerian Agama, satuan pendidikan, keluarga, penggiat literasi, dan organisasi masyarakat. Berbagai upaya yang telah dilakukan mulai dari MoU dengan sekolah dan madrasah, layanan perpustakaan keliling, penyediaan pojok baca di ruang publik, keterlibatan organisasi wanita, hingga peran Duta Baca Kabupaten Buru—merupakan langkah nyata yang patut diapresiasi dan terus diperkuat.
Dengan semangat kebersamaan, diharapkan budaya membaca di Kabupaten Buru dapat tumbuh semakin kokoh sebagai fondasi menuju masyarakat yang cerdas, beriman, dan berakhlak mulia. (NTs)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....