Aksi Tritura 1966, Sejarah Perubahan Politik Nasional
- 09 Jan 2026 21:29 WIB
- Ambon
KBRN, Ambon: Sejarah bangsa Indonesia mencatat tanggal 10 Januari 1966 sebagai momentum penting lahirnya Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat), sebuah gerakan demonstrasi besar yang dipelopori oleh mahasiswa dan pelajar di tengah krisis politik dan ekonomi nasional.
Aksi ini muncul sebagai respons atas kondisi Indonesia pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S). Saat itu, situasi negara dinilai semakin tidak stabil. Inflasi melambung tinggi, harga kebutuhan pokok melonjak, dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah menurun drastis.
Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) bersama pelajar dari Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) turun ke jalan dan menyampaikan tiga tuntutan utama yang kemudian dikenal sebagai Tritura.
Adapun isi Tritura meliputi pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta organisasi massanya, perombakan Kabinet Dwikora yang dianggap masih mengandung unsur terkait G30S, serta penurunan harga dan perbaikan kondisi ekonomi demi kesejahteraan rakyat.
Demonstrasi yang berlangsung di Jakarta tersebut mendapat perhatian luas dan menjadi tekanan politik yang signifikan terhadap pemerintahan Presiden Soekarno. Gerakan ini terus berlanjut dan memuncak hingga akhirnya melahirkan Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar), yang memberikan kewenangan kepada Letjen Soeharto untuk mengambil langkah-langkah pengamanan negara.
Para sejarawan menilai bahwa aksi Tritura menjadi salah satu titik awal peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru. Selain itu, peristiwa ini menegaskan peran strategis mahasiswa sebagai agen perubahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Hingga kini, Hari Tritura diperingati setiap 10 Januari sebagai pengingat akan keberanian generasi muda dalam menyuarakan aspirasi rakyat serta menjaga nilai-nilai demokrasi dan keadilan sosial di Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....