Selamatkan Anak dari Dampak Psikologis Kekerasan Dalam Rumah Tangga
- 20 Okt 2024 17:08 WIB
- Ambon
KBRN, AMBON : Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) atau kekerasan domestik adalah kekerasan yang dialami baik secara fisik, psikologis/emosional, maupun seksual yang dialami di rumah, dimana kekerasan bertujuan untuk mendapatkan kekuasan dan kontrol terhadap pasangan.
"KDRT seperti penyiksaan secara fisik, pelecehan emosional dan lainnya, tentu akan berdampak buruk bagi kehidupan orang yang menjadi korbannya. Namun, bukan hanya bagi si korban, jenis kekerasan yang biasanya terjadi di antara suami dan istri atau anggota keluarga lainnya tersebut juga, akan berdampak bagi psikologis anak-anak yang menyaksikannya," tutur Nur Ria Handayani, S.Psi, M.Psi, Psikolog di RSUD dr. M. Haulussy Ambon kepada RRI, Minggu (20/10/2024).
Handayani lebih rinci menjelaskan, dampak psikologis KDRT bagi anak, antara lain:
1. Menyebabkan kecemasan
Anak-anak korban KDRT akan selalu merasa gelisah melihat kekerasan yang sering dilakukan salah satu orangtua mereka terhadap yang lain. Mereka juga bisa hidup dengan perasaan cemas setiap hari, karena tidak tahu kapan serangan fisik atau verbal berikutnya terjadi di rumah mereka.
2. Memiliki perasaan tidak aman dan sulit untuk percaya pada orang lain
Dengan menyaksikan kekerasan, anak dapat merasa terancam, takut, cemas dan masalah rasa percaya. Hal ini timbul karena anak merasa tidak aman pada lingkungan terdekatnya dan akhirnya anak dapat membentuk persepsi bahwa lingkungan sekelilingnya pun menjadi tidak aman bagi dirinya. Anak sulit membentuk rasa percaya pada orang lain dan pada akhirnya menciptakan interaksi yang negatif.
3. Timbulnya perilaku agresif pada anak
Apabila anak menyaksikan kekerasan di rumah dan tidak terdapat pola intervensi yang dilakukan, maka dalam diri anak akan timbul perilaku agresif yang membuat dapat menormalkan jenis perilaku negatif yang ia alami dan mendorongnya untuk melakukan hal yang sama untuk mendominasi, melakukan kekerasan atau perbuatan mengintimidasi di sekolah.
4. Mengalami Depresi / PTSD
Seorang anak yang memiliki kecemasan akibat tumbuh besar dalam lingkungan yang tidak sehat dan penuh kekerasan, dapat tumbuh menjadi orang dewasa yang mengidap depresi atau mengalami Post Traumatic Syndrome Disorder. Trauma menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga secara rutin membuat anak berisiko tinggi mengalami depresi, kesedihan, gangguan konsentrasi, dan gejala depresi lainnya hingga dewasa jika trauma tersebut tidak ditangani dengan baik.
Anak-anak yang menjadi korban tindak kekerasan umumnya dapat mengalami trauma. Kondisi mental dan kejiwaan yang belum stabil membuat mereka lebih rentan terguncang begitu menghadapi kondisi yang menekan.
Beberapa cara yang dapat dilakukan oleh orangtua dalam menghadapi trauma pada anak korban kekerasan, antara lain :
• Berikan rasa aman.
Ketika anak mengalami suatu trauma, perihal yang dirasakan adalah lingkungannya terasa tidak aman. Pembangunan rasa aman inilah yang perlu diperhatikan sejak awal oleh orangtua. Rasa aman ditunjukkan melalui perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh orang tua. Pastikan Anda selalu ada untuknya dan berikan pengertian bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dengan begitu, kecemasan pada diri anak dapat berkurang dan meredakan traumanya.
• Biarkan anak tetap bersosialisasi.
Memberikan rasa aman bukan berarti ‘mengurung’ anak di rumah dan menghindarkannya dari bermain dengan teman sebayanya. Meskipun ada kecenderungan orangtua untuk merasa cemas atau khawatir bahwa kejadian serupa akan muncul, biarkan anak tetap bersosialisasi.
Membatasi sosialisasi anak justru akan menimbulkan rasa kesepian dan terisolasi pada diri anak. Rasa kesepian berpotensi mengingatkan anak pada kejadian traumatis yang pernah dialaminya dan memperbesar ketakutannya. Upayakan agar anak dapat kembali ke ke dunia mereka, dimana mereka bisa bermain dan bergaul di bawah pengawasan penuh dari orang tua.
• Mengalihkan perhatian anak dengan kegiatan positif.
Untuk menghindarkan anak dari perasaan tertekan dan bayangan traumatis, ajak anak untuk melakukan kegiatan menyenangkan yang positif dan disukai anak. Misalnya bermain sepak bola, melukis, memasak, atau kegiatan lain selain hobi yang dapat menyibukkan. Dengan begitu, pikiran negatif dan memori traumatis perlahan-lahan secara bertahap dapat teralihkan pada kegiatan-kegiatan tersebut.
• Meminta bantuan profesional.
Jangan segan untuk meminta bantuan psikolog ataupun psikiater, saat orang tua merasa memerlukan pihak lain dalam mengatasi trauma anak. Tujuannya adalah agar dapat dilakukan bentuk penanganan yang tepat dan efisien. Pada tahap yang lebih lanjut, anak juga diarahkan untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi ke ranah yang lebih positif.
"Dalam prosesnya nanti, tidak hanya anak yang akan diajak bicara, tetapi hal ini juga nanti akan melibatkan orang tuanya. Pihak orang tua akan diarahkan bagaimana mengatasi trauma si anak," tutup Handayani.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....