Lestarikan Budaya Lokal, Warga Binaan Lapas Geser Dilatih Tari Sawat
- 01 Sep 2026 12:53 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID,Ambon- Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Geser menggelar pelatihan seni tarian adat Seram Bagian Timur, yaitu Tari Sawat, yang diiringi oleh alunan musik tradisional bagi para Warga Binaan, Selasa 1 September 2026. Kegiatan ini merupakan wujud nyata komitmen Lapas Geser dalam membekali Warga Binaan dengan keterampilan seni, sekaligus menanamkan rasa cinta yang mendalam terhadap budaya lokal.
Pelaksanaan program ini melibatkan kolaborasi aktif antara Subseksi Pembinaan dengan para peserta magang yang bertindak langsung sebagai instruktur. Program ini dirancang agar para warga binaan tidak hanya mampu mempelajari, tetapi juga turut melestarikan kearifan budaya lokal masyarakat Seram Bagian Timur, khususnya Tari Sawat. Selain menguasai gerakan tari, para Warga Binaan juga diajarkan teknik memukul dan memainkan musik tifa, rebana dan suling, yang menjadi pengiring tarian tradisional tersebut.
Staf Pembinaan, Raul Attamimi, menjelaskan bahwa pelatihan ini diinisiasi sebagai bagian dari program pembinaan kepribadian.
Dalam pelaksanaannya, kami berkolaborasi dengan peserta magang untuk mengoptimalkan transfer ilmu, baik dalam seni tari maupun ketukan musik pengiring.
“Pelatihan Tari Sawat dan musik pengiringnya ini adalah bentuk pembinaan kepribadian berbasis seni dan budaya. Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat mempererat hubungan emosional antara petugas dan warga binaan, sekaligus melestarikan warisan budaya leluhur,” ujar Raul.
Raul juga menyampaikan bahwa, Tari Sawat merupakan salah satu bentuk tarian pergaulan tradisional yang berkembang di Maluku termasuk di wilayah Kabupaten Seram Bagian Timur dan hingga kini kerap dipentaskan dalam berbagai kegiatan budaya maupun keagamaan.
Di tempat yang sama, Abdul Muthalib Killian, salah satu peserta magang di Lapas Geser yang terlibat langsung dalam pendampingan kegiatan ini, mengamati antusiasme luar biasa dari para warga binaan.
“Mereka sangat bersemangat mempelajari setiap gerakan tari dan ketukan musik pengiring. Kegiatan ini tidak hanya menjadi hiburan pengisi waktu, tetapi juga sarana edukasi yang sangat positif bagi mereka selama menjalani masa pidana,” tutur Abdul.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan para peserta magang dalam program ini merupakan bentuk kontribusi nyata untuk mendukung optimalisasi pembinaan di dalam Lapas.
“Kami ingin menjadikan pelatihan ini sebagai sarana bagi warga binaan untuk mengekspresikan bakat, sekaligus upaya nyata dalam melestarikan tarian budaya dan mengembangkan musik tradisional di Kabupaten Seram Bagian Timur,” ungkapnya.
Respons positif juga datang dari salah satu warga binaan berinisial AR yang ikut serta dalam pelatihan tersebut. Ia menyatakan bahwa kegiatan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan ruang kreativitas yang sangat bermanfaat selama menjalani masa pidana.
“Melalui kegiatan ini, kami memperoleh keterampilan baru yang sangat berharga, baik dalam menari Sawat maupun memainkan musik pengiringnya. Ini menjadi wadah yang sangat positif bagi kami untuk mengisi waktu luang dengan hal-hal yang produktif dan membangun,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Lapas Geser, Nober Hasanda, menilai bahwa kegiatan positif ini sejalan dengan visi pemasyarakatan yang mengedepankan pendekatan humanis, sekaligus mampu berperan inklusif dalam mempertahankan identitas budaya di tengah arus modernisasi.
“Lapas Geser berkomitmen untuk terus berinovasi dalam menghadirkan program pembinaan yang menyentuh hati dan relevan dengan kebutuhan warga binaan. Pelestarian budaya melalui tari Sawat dan musik Tifa ini adalah salah satu langkah kami untuk membentuk karakter warga binaan yang lebih baik. Kami berharap mereka siap kembali ke tengah masyarakat dengan membawa bekal keterampilan serta rasa cinta yang mendalam terhadap budaya sendiri,”jelasnya
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....