Johannes Leimena: Dokter, Politisi, dan Pahlawan Nasional Penggagas Puskesmas
- 16 Agt 2026 08:54 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Namanya mungkin tidak setenar Soekarno atau Hatta, namun kontribusi Dr. Johannes Leimena bagi bangsa Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Pria kelahiran Ambon, 6 Maret 1905, ini tercatat sebagai menteri dengan masa jabatan terlama di era pemerintahan Presiden Soekarno, dengan total pengabdian hampir 20 tahun berturut-turut dalam 18 kabinet berbeda.
Leimena yang akrab disapa "Om Jo" ini pernah menjabat sebagai Menteri Kesehatan, Wakil Perdana Menteri, Menteri Koordinator Distribusi, hingga Menteri Sosial. Atas jasa-jasanya, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 52/TK/2010 pada 8 November 2010, bersama dengan Johannes Abraham Dimara.
Perjalanan Karier dan Pendidikan
Leimena dilahirkan di Ambon, Maluku, dari pasangan Dominggus Leimena dan Elizabeth Sulilatu yang berprofesi sebagai guru (Kompas.com, 2022). Setelah ayahnya meninggal saat ia berusia lima tahun, ia pindah ke Cimahi pada 1914 dan kemudian ke Batavia untuk melanjutkan pendidikan.
Ia menempuh pendidikan dasar di Ambon, kemudian melanjutkan ke Europeesch Lagere School (ELS) dan Sekolah Menengah Paul Krugerschool di Batavia (Kementerian Kebudayaan RI). Pendidikan kedokterannya ditempuh di STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Artsen) hingga lulus pada 1930, kemudian melanjutkan ke Geneeskunde Hogeschool (GHS) di Jakarta dan lulus pada 1939 sebagai dokter spesialis penyakit hati.
Selama masa studinya, Leimena aktif dalam berbagai organisasi pemuda seperti Jong Ambon dan turut menjadi panitia dalam Kongres Pemuda Pertama (1926) dan Kongres Pemuda Kedua (1928) (Historia.id, 2021).
Karier di Bidang Kesehatan
Setelah lulus dari STOVIA, Leimena mulai bekerja di Centraal Burgerlijke Ziekenhuis (sekarang RS Cipto Mangunkusumo). Ia sempat ditugaskan di Kedu saat Gunung Merapi meletus pada 1930, sebelum dipindahkan ke RS Zending Imanuel di Bandung.
Selama pendudukan Jepang, Leimena ditahan selama enam bulan karena dicurigai merawat tentara Belanda yang terluka dan dekat dengan tokoh pergerakan Amir Sjarifuddin. Ia baru dibebaskan setelah merawat perwira Kenpeitai yang menderita malaria (Kompas.com, 2010).
Menteri Kesehatan dan Penggagas Puskesmas
Leimena mengawali karier menterinya sebagai Menteri Muda Kesehatan dalam Kabinet Sjahrir II (1946), kemudian menjabat sebagai Menteri Kesehatan mulai 3 Juli 1947 hingga 1953, dan kembali menjabat pada 1955-1956 (Perpustakaan Nasional RI).
Sebagai Menteri Kesehatan, ia menjadi pelopor sistem Puskesmas yang kini menjadi tulang punggung pelayanan kesehatan di Indonesia. Sistem yang dikenal dengan Bandung Plan atau Leimena Plan ini dikembangkan berdasarkan pengalamannya bekerja di RS Zending Imanuel Bandung. Konsepnya menghubungkan rumah sakit pusat di kota dengan klinik-klinik di pedesaan yang dikelola mantri kesehatan, menggabungkan usaha kuratif dan preventif yang dilakukan pemerintah dan masyarakat secara bersama-sama (Kompas.com, 2022).
Leimena Plan inilah yang kemudian berkembang menjadi Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) pada akhir 1960-an. Pembangunan Puskesmas ini mendapatkan penghargaan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan dijadikan contoh bagi negara-negara lain di dunia (Kompas.com, 2011).
Pada tahun 1951, Leimena menginisiasi pendirian Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) untuk menekan angka kematian ibu dan anak yang saat itu mencapai 12-16 persen untuk ibu melahirkan dan 115-300 persen untuk bayi. Ia juga membentuk Lembaga Makanan Rakyat untuk mengatasi masalah gizi masyarakat (Kompas.com, 2022).
Peran dalam Perundingan dan Pemerintahan
Leimena turut serta dalam berbagai perundingan penting, termasuk Perjanjian Linggarjati (1946), Perjanjian Renville (1948), Perjanjian Roem-Roijen (1948), dan Konferensi Meja Bundar (1949) di mana ia menjadi Ketua Komisi Militer (Historia.id, 2021).
Pada 29 April 1957, Leimena diangkat sebagai Wakil Perdana Menteri. Ia juga dipercaya sebagai Menteri Koordinator Distribusi dan menyandang pangkat Laksamana Madya (Tituler) di TNI Angkatan Laut (Perpustakaan Nasional RI).
Di masa Orde Baru, ia tidak lagi menjabat sebagai menteri, namun tetap aktif sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) hingga 1973 (Kompas.com, 2011).
Kehidupan Pribadi dan Akhir Hayat
Leimena menikah dengan Tjitjih Wiyarsih dan dikaruniai delapan anak, salah satunya Melani Leimena Suharli yang kemudian menjadi Wakil Ketua MPR RI. Ia aktif dalam gerakan oikumene dan menjadi Wakil Ketua Dewan Gereja Indonesia (sekarang PGI) serta turut mendirikan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan Partai Kristen Indonesia (Parkindo) (Kompas.com, 2022).
Johannes Leimena wafat di Jakarta pada 29 Maret 1977 pada usia 72 tahun dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta Selatan (Kementerian Kebudayaan RI).
Sumber: kompas.com, antaranews.com, ensiklopedia sastra, kemenbud
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....