Kiprah Yusuf Ronodipuro, Sosok di Balik Mengudaranya Kabar Kemerdekaan RI ke Dunia
- 15 Agt 2026 19:46 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Tepat pukul 10 pagi, 17 Agustus 1945, Soekarno membacakan teks proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta. Detik itu menjadi tonggak kelahiran bangsa Indonesia. Namun, kabar kemerdekaan hampir tidak sampai ke telinga dunia, andai saja tidak ada Muhammad Yusuf Ronodipuro.
Saat itu, Yusuf terperangkap di dalam gedung Radio Hoso Kyoku, Jalan Medan Merdeka Barat. Sejak 14 Agustus 1945, pintu masuk dijaga ketat prajurit Kempetai. Siaran ke luar negeri dihentikan total. Tidak ada yang boleh keluar atau masuk. Hingga secarik kertas mengubah segalanya.
Terkurung Dua Hari Tanpa Kabar
Yusuf Ronodipuro, pemuda kelahiran Salatiga 30 September 1919, bekerja sebagai penyiar dan reporter di Hoso Kyoku. Ia dan seluruh staf dikurung di dalam gedung selama dua hari penuh tanpa mengetahui apa pun yang terjadi di luar.
"Yusuf dan seluruh staf tidak tahu apa pun yang terjadi di luar selama dua hari penuh. Mereka benar-benar terisolasi," demikian tertuang dalam buku Sejarah Berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia terbitan Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, Kemdikbud.
Secarik Kertas dari Syahruddin
Pada petang hari Jumat, 17 Agustus 1945, seorang pegawai kantor berita Domei bernama Syahruddin berhasil menembus penjagaan Kempetai. Ia membawa secarik kertas berisi naskah Proklamasi yang baru saja dibacakan Soekarno-Hatta.
Syahruddin menyampaikan amanat dari Adam Malik kepada Yusuf: "Siarkan! Ini proklamasi kemerdekaan kita!"
Yusuf pun bergerak cepat. Bersama rekannya, Bachtiar Loebis, dan teknisi Joe Seragih, mereka masuk ke studio lama yang sudah tidak terhubung dengan pemancar. Dengan tangan cekatan, Joe Seragih menyambungkan kembali jaringan kabel pemancar.
Siaran Menggemparkan Dunia
Tepat pukul 19.00 WIB, 17 Agustus 1945, suara Yusuf mengudara. Ia membacakan teks proklamasi dalam bahasa Indonesia, kemudian mengulanginya dalam bahasa Inggris agar dapat dipahami oleh radio-radio luar negeri.
Siaran ini berhasil menjangkau BBC London, Voice of America, hingga Singapura.
Disiksa Hingga Pincang Seumur Hidup
Keberanian itu harus dibayar mahal. Polisi militer Jepang menangkap, menginterogasi, dan menyiksa Yusuf serta Bachtiar Loebis hingga mengalami luka berat.
Puncaknya, seorang perwira Jepang menghunus pedang samurai untuk mengeksekusi Yusuf. Namun, seorang perwira sipil Jepang menghentikan eksekusi dengan alasan bahwa membunuh penyiar yang mengumandangkan kemerdekaan negara lain akan menjadi skandal internasional.
Akibat penyiksaan tersebut, kaki Yusuf mengalami cedera permanen. Ia pincang sepanjang sisa kehidupannya.
Pendiri RRI dan Pencetus Semboyan Legendaris
Semangat Yusuf tak padam meski tubuhnya remuk. Pada 11 September 1945, para tokoh dari delapan bekas stasiun Hoso Kyoku menggelar pertemuan di Jakarta. Mereka sepakat mendirikan Radio Republik Indonesia (RRI).
Pertemuan tersebut dihadiri oleh delapan delegasi:
• Abdulrachman Saleh
• Adang Kadarusman
• Soehardi
• Soetarji Hardjolukita
• Soemarmadi
• Sudomomarto
• Harto
• Maladi
Tanggal 11 September kemudian diperingati sebagai Hari Radio Nasional. Yusuf Ronodipuro tercatat sebagai salah satu pendiri RRI. Bersama Abdulrachman Saleh dan Maladi, ia mencetuskan semboyan legendaris yang hingga kini melekat pada RRI: "Sekali di Udara, Tetap di Udara!"
Semboyan ini bermakna sama dengan semboyan perjuangan: "Sekali Merdeka, Tetap Merdeka."
Dari Hoso Kyoku untuk Jepang Jadi RRI Milik Bangsa
Radio Hoso Kyoku awalnya didirikan oleh pemerintah pendudukan Jepang sebagai alat propaganda. Namun, setelah proklamasi, radio ini berubah menjadi milik bangsa Indonesia.
Transformasi ini menjadi simbol perjuangan dan kedaulatan di bidang informasi. RRI resmi menjadi corong suara rakyat dan pemerintah Indonesia.
Mengusulkan Ulang Rekaman Proklamasi ke Bung Karno
Karier Yusuf terus berlanjut usai kemerdekaan. Ia pernah menjabat sebagai Kepala RRI, Direktur Jenderal Penerangan, hingga dipercaya menjadi Duta Besar Indonesia.
Pada akhir 1951, Yusuf mengusulkan ide kepada Bung Karno untuk merekam ulang pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Rekaman itulah yang hingga kini dikenal luas sebagai dokumentasi suara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Wafat dan Warisan Abadi
Yusuf Ronodipuro wafat di Jakarta pada 27 Januari 2008 dalam usia 88 tahun. Hingga kini, namanya dikenang sebagai pelopor penyiaran kemerdekaan Indonesia.
Suara yang pada 17 Agustus 1945 membawa kabar kemerdekaan ke seluruh dunia, kini terus bergema melalui RRI. RRI menjadi corong resmi bangsa Indonesia hingga hari ini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....