Problem Sampah dan Kesadaran Lingkungan, Warga Diminta Jaga Alam Ambon

  • 12 Agt 2026 10:10 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Persoalan lingkungan masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius di Kota Ambon dan wilayah Maluku. Dalam obrolan Paparisa Komunitas yang berjudul "Menjaga Alam, Menjaga Masa Depan", Indah dan Zevi Menyerukan isi hati mereka sebagai anak-anak muda yang peduli terhadap lingkungan. Sampah yang ditemukan di pasar, sungai, pantai, hingga kawasan hutan menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan kondisi alam, tetapi juga perilaku manusia dalam menjaga lingkungan.

Kondisi tersebut kembali menjadi perhatian setelah seorang konten kreator dari akun Pineapple Story – Perjalanan Anas berkunjung ke Ambon. Dalam kunjungannya, ia menyoroti kondisi lingkungan di sejumlah kawasan, termasuk pasar tradisional dan kawasan Jembatan Batumerah. Peristiwa tersebut menjadi gambaran bahwa keindahan alam Ambon yang selama ini menjadi daya tarik tidak selalu terlihat di kawasan yang telah padat aktivitas manusia. Sebaliknya, kawasan yang masih relatif tersembunyi dan belum banyak tersentuh aktivitas manusia justru cenderung memiliki kondisi alam yang lebih terjaga.

Kerusakan lingkungan juga tidak hanya terlihat dari persoalan sampah di daratan. Kondisi pesisir dan laut di kawasan perkotaan Ambon turut menjadi perhatian. Salah satu contoh yang disampaikan adalah persoalan kualitas air laut yang pernah digunakan masyarakat untuk merendam ikan. Pada 2019, terdapat larangan penggunaan air laut untuk merendam ikan di kawasan tertentu karena ditemukan adanya bakteri Escherichia coli (E. coli).

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pencemaran di wilayah pesisir merupakan persoalan yang perlu ditangani secara serius. Laut yang seharusnya menjadi sumber kehidupan masyarakat pesisir justru dapat tercemar akibat aktivitas manusia di daratan.

Dalam kehidupan sehari-hari, sampah menjadi persoalan lingkungan yang paling mudah ditemukan. Sampah tidak hanya terlihat di jalan dan kawasan permukiman, tetapi juga dapat ditemukan di sungai, pantai, gunung, bahkan di dasar laut.

Salah seorang warga menceritakan pengalamannya saat tinggal di kawasan Batu Merah Dalam. Kondisi akses jalan yang sempit dan sulitnya membuang sampah menjadi salah satu alasan sebagian masyarakat memilih membuang sampah ke sungai.

Hal serupa juga ditemukan di kawasan pesisir. Sebagian masyarakat masih menganggap membuang sampah ke laut sebagai cara yang lebih mudah karena sampah dianggap akan terbawa ombak dan menghilang.

Padahal, sampah yang dibuang ke sungai maupun laut tidak benar-benar hilang. Sampah tersebut dapat berpindah ke wilayah lain, mencemari ekosistem laut, serta membahayakan kehidupan biota dan masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut.

Persoalan lingkungan tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah ataupun masyarakat. Keduanya memiliki tanggung jawab yang saling berkaitan.

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya, mulai dari penyediaan fasilitas pengelolaan sampah, sosialisasi kepada masyarakat, hingga pemasangan penghalang sampah di sungai untuk mencegah sampah masuk ke laut.

Namun, berbagai fasilitas tersebut tidak akan berjalan maksimal apabila tidak diikuti kesadaran masyarakat untuk menggunakannya dengan baik.

Sebaliknya, masyarakat juga membutuhkan dukungan pemerintah berupa fasilitas pembuangan dan pengelolaan sampah yang mudah dijangkau. Kondisi akses yang sulit, misalnya, dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong masyarakat membuang sampah ke sungai atau tempat lain yang tidak semestinya.

Dengan demikian, persoalan lingkungan dapat diibaratkan seperti “bola pingpong”. Masyarakat membutuhkan pemerintah untuk menyediakan sistem dan fasilitas yang memadai, sementara pemerintah membutuhkan partisipasi masyarakat agar kebijakan dan fasilitas tersebut dapat berjalan efektif.

Persoalan pengelolaan sampah juga menjadi perhatian Pemerintah Kota Ambon. Pada 2023, pemerintah melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan (DLHP) melakukan upaya untuk mencari lokasi baru yang dapat digunakan sebagai tempat pengelolaan atau pembuangan sampah.

Namun, mencari lokasi baru saja bukanlah solusi jangka panjang. Jika hanya memindahkan sampah ke lokasi baru, persoalan tersebut berpotensi kembali muncul dalam bentuk tumpukan sampah yang semakin besar.

Karena itu, pengelolaan sampah perlu diarahkan pada upaya mengurangi jumlah sampah sejak dari sumbernya, meningkatkan pemilahan dan pengolahan, serta mendorong masyarakat untuk mengurangi kebiasaan membuang sampah sembarangan.

Upaya pengolahan sampah juga telah melibatkan kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk penggunaan mesin pengolahan sampah. Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari solusi untuk mengurangi beban sampah di Kota Ambon.

Pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan hanya persoalan pemerintah. Kesadaran setiap individu menjadi bagian penting dalam menjaga kebersihan dan kelestarian alam.

Kebiasaan sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, membawa kembali sampah setelah melakukan aktivitas di alam, serta membuang sampah pada tempat yang telah disediakan dapat menjadi langkah kecil yang memberikan dampak besar apabila dilakukan secara bersama-sama.

Ambon dan Maluku memiliki kekayaan alam yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Laut, pantai, sungai, dan hutan bukan hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga sumber kehidupan bagi masyarakat.

Karena itu, menjaga alam berarti menjaga masa depan. Pemerintah dan masyarakat perlu berhenti saling menyalahkan dan mulai membangun tanggung jawab bersama agar lingkungan Ambon dan Maluku tetap terjaga bagi generasi berikutnya.

Penulis : Hentje Pietersz

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....