Cegah Erosi, Prof Wardis Dorong Pola Tumpang Sari dalam Hilirisasi Ubi Kayu Bursel

  • 10 Agt 2026 09:33 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Pengembangan hilirisasi ubi kayu di Kabupaten Buru Selatan (Bursel) perlu memperhatikan kondisi ekologi agar pembukaan lahan tidak memicu kerusakan lingkungan. Guru Besar Universitas Pattimura Prof. Dr. Ir. Wardis Girsang mengingatkan risiko erosi jika ubi kayu dikembangkan secara monokultur dalam skala besar.

“Kalau lahan berbukit kemudian ditanami ubi kayu secara monokultur dan massal, itu memiliki risiko terhadap erosi,” kata Wardis.

Menurutnya, kondisi geografis Maluku yang memiliki banyak wilayah berbukit membuat pengembangan komoditas pertanian harus disesuaikan dengan karakter ekologis masing-masing wilayah. Karena itu, pengembangan ubi kayu untuk mendukung industri hilir tidak boleh hanya mempertimbangkan kebutuhan bahan baku industri.

Ia menyarankan penerapan pola tanam tumpang sari atau multiple cropping untuk mengurangi risiko kerusakan tanah. Pola tersebut dinilai lebih sesuai untuk menjaga tutupan lahan sekaligus memungkinkan petani memperoleh hasil dari lebih dari satu jenis tanaman.

“Jangan sampai karena mengejar kebutuhan industri, kita kemudian membuka lahan secara besar-besaran dan akhirnya terjadi erosi,” ujarnya.

Prof. Wardis menilai aspek lingkungan harus menjadi bagian penting dalam perencanaan investasi hilirisasi ubi kayu di Buru Selatan. Kajian terhadap kondisi lahan, pola tanam, serta kemampuan lingkungan dalam menopang kegiatan pertanian perlu dilakukan sebelum pengembangan dilakukan dalam skala luas.

Ia juga mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan di daratan dapat memberikan dampak lanjutan terhadap ekosistem perairan. Erosi yang membawa sedimentasi ke sungai dan laut berpotensi mengganggu ekosistem pesisir, termasuk terumbu karang.

“Forest is the mother of the sea, jadi kalau darat kita rusak, dampaknya bisa sampai ke laut,” katanya.

Ditambahkan, pembangunan ekonomi di Buru Selatan tetap harus berjalan dengan memperhatikan keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. Hilirisasi ubi kayu diharapkan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru tanpa mengorbankan ruang hidup masyarakat dan ekosistem yang menopangnya.

Karena itu, ia mendorong pemerintah dan investor untuk menempatkan aspek ekologis sebagai bagian dari perencanaan sejak tahap awal. Dengan pengelolaan lahan yang tepat dan pola tanam yang berkelanjutan, hilirisasi ubi kayu dapat dikembangkan tanpa menimbulkan risiko lingkungan yang lebih besar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....