Dari Komputer ke Sorban, Rifqi Alhamid Pilih Dakwah & Merawat Toleransi di Ambon
- 09 Agt 2026 10:01 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Jalan hidup Muhammad Rifqi bin Idrus Alhamid terasa seperti sebuah kanvas yang dilukis dengan warna-warna tak terduga. Laki-laki yang akrab disapa Habib Rifqi ini adalah bukti nyata bahwa ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keagamaan dapat bersinergi untuk menebar manfaat. Di balik sorban dan jubahnya, tersimpan kisah seorang sarjana komputer yang memilih jalan dakwah, membangun yayasan sosial, dan menjadi perekat toleransi di kota kelahirannya, Ambon.
Lahir dan besar di Kota Ambon pada 24 Juni 1985, Habib Rifqi mengawali perjalanan pendidikannya di tengah hiruk-pikuk kota yang kelak akan ia warnai dengan kiprahnya. Masa kecilnya dihabiskan di Ponegoro, sebuah kawasan di belakang Kantor Klasik GPM kota Ambon. Meski sempat terganggu oleh konflik sosial yang melanda Ambon pada tahun 1999, semangat belajarnya tidak pernah padam .
Dari Ambon, ia merantau ke Pasuruan, Jawa Timur, untuk mondok dan menempuh pendidikan. Setelah itu, ia melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Informatika dan Komputer Indonesia (STIKI) di Malang, meraih gelar Sarjana Komputer pada 2008 . Namun, panggilan jiwa untuk mendalami ilmu agama membawanya ke Darul Musthafa, Tarim, Yaman, pada 2010 . Perjalanan ilmunya kemudian disempurnakan dengan gelar Magister Ilmu Administrasi Publik dari Universitas Pattimura, Ambon, pada 2024 .
“Saya dulu anak IT, suka main komputer, dan berada di lingkungan yang penuh dengan nilai-nilai agama” kenang Habib Rifqi sambil tersenyum. Perubahan itu tidak hanya tampak dari penampilannya, tetapi juga dari cara pandangnya terhadap kehidupan. Ia menyadari bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, dan ia memilih jalan dakwah sebagai sarana untuk mengabdi kepada Tuhan dan masyarakat.
Kembali ke Ambon, Habib Rifqi tidak tinggal diam. Pada tahun 2013, ia mendirikan Yayasan Ar Rahmah Ambon, sebuah lembaga yang bergerak di bidang pendidikan, sosial, kemasyarakatan dan dakwah . Yayasan ini menjadi wadah bagi berbagai kegiatan, mulai dari Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ), Madrasah, program beasiswa, hingga pembangunan Pondok Pesantren Ar Rahmah di Liang, Maluku Tengah .
“Yayasan ini lahir karena saya ingin memberikan yang terbaik untuk Ambon,” ujarnya. “Kami membangun pesantren dengan guru-guru yang merupakan putra daerah asli Ambon, yang akan kembali mengabdi untuk negeri ini.”
Kiprah Habib Rifqi tidak hanya terbatas pada yayasan yang dipimpinnya. Ia juga aktif dalam berbagai organisasi, seperti Wakil Syariah PCNU Kota Ambon, Penasehat DPP Front Pemuda Muslim Maluku, dan Ketua Majelis Al Wafa bi 'Ahdillah Maluku Malut .
Di tengah perbedaan, Habib Rifqi menjelma menjadi perekat toleransi. Ia memiliki hubungan yang erat dengan tokoh-tokoh lintas agama, termasuk seorang pendeta yang menjadi sahabat karibnya. Bahkan, saat berkunjung ke Papua, ia menyempatkan diri untuk singgah ke gereja dan bersilaturahmi dengan Uskup setempat. Baginya, perbedaan bukanlah halangan untuk hidup rukun dan saling menghormati.
“Ambon ini luar biasa. Kami pernah punya konflik, tapi itu dulu. Sekarang, kami hidup berdampingan, saling menjaga,” tegasnya. Ia pun mengajak semua pihak untuk meneladani kisah dalam Al-Qur'an tentang seorang perempuan yang diampuni dosanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. “Jika berbuat baik pada binatang saja bisa menjadi jalan masuk surga, bagaimana lagi dengan kita sesama manusia?”
Dengan segudang pengalaman dan ilmu yang dimilikinya, Habib Rifqi terus mengabdikan diri untuk kemajuan Maluku dan Indonesia. Ia adalah sosok inspiratif yang membuktikan bahwa latar belakang pendidikan tidak pernah menjadi penghalang untuk berbuat baik. Dari seorang sarjana komputer yang haus akan ilmu, ia menjelma menjadi seorang dai yang kian hari kian dibutuhkan oleh masyarakatnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....