Mafindo: Jaga Fakta, Rawat Basudara, dan Lawan Hoaks di Maluku

  • 06 Agt 2026 13:05 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Berdiri sejak Desember 2018, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Maluku terus menjadi garda terdepan dalam melawan arus informasi menyesatkan di Bumi Seribu Gunung. Di balik pergerakan itu, ada sosok M. Sahril Salamena yang baru saja dipercaya memimpin organisasi tersebut untuk periode 2026-2029 .

Dalam perbincangan di Pro 1 RRI Ambon beberapa waktu lalu, pria yang akrab disapa Aril ini menceritakan awal mula keterlibatannya. Tahun 2018, ia diajak oleh teman-teman untuk berdiskusi dan mengklarifikasi berbagai sistem informasi. Saat itu, ia memilih untuk mengambil peran dalam pemberdayaan, dan berkomitmen mendeklarasikan serta memperluas wilayah Mafindo ke kawasan timur Indonesia. Deklarasi di Liang pada 20 Desember 2018 menjadi tonggak sejarah bagi Mafindo Maluku yang juga bertepatan dengan momen akhir tahun Pramuka .

Hoaks Tak Pandang Bulu dan SDM

Menurut Sahril, kondisi penyebaran hoaks di Maluku tidak bisa dipisahkan dari ekosistem digital nasional. Apa yang viral di Jakarta, Surabaya, atau Makassar, dalam hitungan menit sudah sampai ke Ambon.

"Yang baru bukan hanya jumlah hoaksnya, tapi juga bentuk dan caranya," ujarnya.

Ia mengungkapkan, hampir setiap hari timnya mendeteksi informasi yang tidak benar di kanal media sosial. Meski demikian, Sahril mengakui bahwa tim cek fakta Mafindo Maluku masih terbatas. Relawan yang tidak digaji ini punya keterbatasan SDM untuk menjangkau wilayah Maluku yang luas.

"Kita kekurangan SDM, apalagi wilayah Maluku agak luar biasa dan luas, tidak sebanding dengan tim yang ada," jelasnya.

Ia juga membantah anggapan bahwa korban hoaks hanya mereka yang tidak paham teknologi. Menurutnya, hoaks menyerang semua kalangan, bahkan profesor pun bisa menjadi korban jika tidak bisa memproteksi diri dari informasi palsu, terutama dengan maraknya konten hasil kecerdasan artifisial (AI) yang sulit dibedakan dengan aslinya .

Contoh Nyata Hoaks: Lowongan Kerja Palsu

Sahril mencontohkan kasus hoaks lowongan kerja PT Inpex yang beredar beberapa waktu lalu. Informasi perekrutan yang disebar melalui grup WhatsApp menggunakan G-Form ternyata adalah upaya penipuan untuk mengumpulkan data pribadi. Berkat laporan relawan yang bertugas di instansi terkait, Mafindo Maluku berhasil mengklarifikasi dan memastikan informasi tersebut adalah hoaks.

"Pekerjaan lagi susah seperti ini, lapangan pekerjaan tidak banyak, maka informasi seperti ini jadi sasaran empuk. Data pribadi yang sudah bocor bisa disalahgunakan di kemudian hari," tegasnya.

Jenis hoaks yang paling sering muncul di Maluku meliputi isu SARA, konflik komunal, politik, kesehatan, hingga lowongan pekerjaan .

Momen Rawan: Pemilu dan Bencana

Sahril menyoroti dua momen rawan penyebaran hoaks, Pemilu dan bencana alam. Saat Pemilu, ada tujuan tertentu untuk menjatuhkan calon lawan. Sedangkan saat bencana, informasi yang simpang siur justru menghambat penanganan darurat.

"Dua kejadian itu, hoaksnya meningkat. Di Pemilu, kecenderungan menjatuhkan orang itu tinggi," ungkapnya.

Ia mengingatkan, dengan kecanggihan teknologi AI, ke depan masyarakat harus lebih waspada terhadap konten deepfake. Solusi sederhana yang ia tawarkan adalah memperbanyak konten live streaming untuk meminimalisir hasil editan yang bisa menyesatkan .

Langkah Sederhana Cegah Hoaks

Untuk membentengi diri dari banjir informasi, Sahril membagikan 5 kebiasaan sederhana namun efektif:

1. Berhenti sejenak dan jangan langsung membagikan informasi.

2. Periksa sumbernya, apakah berasal dari lembaga resmi atau akun anonim.

3. Baca informasi secara utuh, bukan hanya judulnya.

4. Bandingkan dengan sumber lain, apakah media lain memberitakan hal yang sama.

5. Gunakan akal sehat. Tanyakan pada diri sendiri, apakah informasi itu masuk akal?

“Kami mengimbau, sehatkan diri Anda. Bukan secara lahir, tapi secara akal juga. Menahan diri itu penting karena itu berarti Anda lebih hati-hati," pesannya .

Untuk pengecekan cepat, ia menyarankan masyarakat menggunakan Google Image dengan meng-upload screenshot foto atau video untuk mengetahui sumber aslinya. Atau, cukup ketikkan informasi yang didapat di mesin pencari untuk melihat liputan dari media-media terpercaya.

Program GANDONG Perkuat Literasi

Ke depan, Mafindo Maluku mengusung program GANDONG sebagai strategi gerakan, yang merupakan akronim dari Gerakan Relawan Unggul, AI untuk Maluku, Nalar Cek Fakta, Digital Pela Gandong, dan Literasi Berlayar. Program ini lahir dari filosofi budaya Maluku untuk memperkuat persaudaraan dan ketahanan masyarakat terhadap hoaks .

"Karena bagi katong (kita), menjaga fakta adalah cara menjaga hubungan orang basudara dan menjaga Maluku," pungkas Sahril.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....