Kalah Terus di Pencak Silat, Hafizah Nuraini Kini Jadi Putri Pendidikan Maluku 2026

  • 05 Agt 2026 21:44 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Semangat juang dan kepedulian terhadap pendidikan menjadi benang merah dalam perjalanan hidup Hafizah Nuraini Djauhar. Perempuan yang akrab disapa Fiza ini kini dikenal sebagai Putri Pendidikan Maluku 2026 dan juga winner Miss Education Indonesia 2020. Di usianya yang masih muda, ia telah menjelma menjadi figur inspiratif, terutama bagi generasi muda di wilayah Indonesia Timur.

Prestasinya tidak datang tanpa perjuangan. Hafizah adalah atlet pencak silat sejak usia 11 tahun. Ketertarikannya pada bela diri berawal dari kekagumannya pada jiwa petarung dan ketangguhan orang lain. Ia pun memutuskan untuk bergabung dengan ekstrakurikuler pencak silat saat SMP. "Di pencak silat, mental dan karakter saya terbentuk," ujarnya.

Meski akrab dengan kemenangan, Hafizah mengakui bahwa jalan yang ia tempuh dipenuhi kegagalan. Ia menceritakan pengalaman pahit ketika ia kalah terus menerus dalam berbagai kejuaraan, bahkan dengan teman sebaya. "Saya merasa sangat drop, kehilangan arah dan semangat," ungkapnya.

Namun, dari titik terendah itulah ia menemukan kekuatan untuk bangkit. Dukungan dari lingkungan, terutama teman-teman dan pelatih di padepokan pencak silat, menjadi kunci kebangkitannya. "Mereka tidak langsung memberi poin karena saya salah, tapi memberikan alasan kenapa saya harus menang," kenangnya.

Gelar Putri Pendidikan Bukan Sekadar Mahkota

Kegigihan Hafizah membuahkan hasil. Kini, sebagai Putri Pendidikan Maluku 2026, ia mengemban misi besar, mengadvokasi pendidikan di wilayah kepulauan. Baginya, gelar ini bukan sekadar simbol prestasi, melainkan representasi dari perjuangan nyata untuk memajukan pendidikan di tanah kelahirannya.

Hal ini didorong oleh keprihatinannya melihat kondisi pendidikan di Maluku yang masih terhambat oleh keterbatasan geografis. "Saya mengangkat advokasi pendidikan mengenai kepulauan. Saya merepresentasikan apa yang terjadi di dunia pendidikan Maluku dan memberikan solusi," tegasnya.

Hafizah menyoroti bagaimana kondisi ini berdampak pada psikologis anak-anak muda. Ia melihat banyak anak di daerah yang sebenarnya memiliki kualitas, namun tidak berani memulai dan menunjukkan potensi karena rasa minder. "Figur-figur besar di Maluku harus memberikan inspirasi dan dampak agar generasi muda tidak minder," pesannya.

Tantangan yang ia hadapi semakin nyata saat dirinya, sebagai satu-satunya perwakilan dari Maluku dalam ajang Miss Education Indonesia, harus bersaing dengan peserta dari daerah maju. "Itu menjadi tantangan tersendiri, karena saya harus ekstra berkompetisi dan tidak boleh kalah karena membawa nama Maluku," ceritanya.

Menyuarakan Keadilan dan Pemerataan

Hafizah secara blak-blakan mengkritisi dukungan pemerintah yang dinilainya belum merata. Berdasarkan pengalamannya melakukan sosialisasi ke beberapa sekolah di Seram, ia mendapati banyak siswa yang menganggap pendidikan tidak penting karena mereka tidak dibekali dengan pemahaman bahwa pendidikan menentukan masa depan.

"Dari 50 siswa yang saya temui, minat mereka untuk melanjutkan kuliah sangat kecil," ungkapnya.

Pengalaman pahit sebagai atlet yang kerap kali kekurangan dukungan maksimal dari pemerintah daerah semakin memperkuat advokasinya. "Mendekati keberangkatan, kebutuhan kami dipotong. Itu sangat mempengaruhi psikologi. Pemerintah harus lebih sensitif terhadap hal-hal ini," tegasnya.

Perempuan Bukan Hanya di Dapur, Karakter dan Mental Lebih Penting

Kepada para pendengar RRI Ambon, Hafizah juga menepis stereotip bahwa perempuan hanya pantas berada di dapur. "Sekarang banyak representasi atau tokoh-tokoh figur yang memberikan dampak positif sebenarnya dari perempuan," katanya.

Ia menekankan bahwa karakter lebih penting daripada nilai akademik semata. Menurutnya, karakter terbentuk dari pendidikan dan perjuangan menghadapi kegagalan. Ia juga mengingatkan pentingnya bijak dalam menggunakan teknologi. "Di era modernisasi, tergantung kita memanfaatkan teknologi dengan baik. Jika tidak, itu akan mengurangi kualitas pola pikir dan kepribadian," pesannya.

Pesan untuk Gubernur Maluku dan Anak Muda

Jika diberi kesempatan bertemu dengan Gubernur Maluku, Hafizah berharap pemerintah lebih peduli pada daerah-daerah terpencil dan kepulauan. "Anak-anak sangat bergantung pada bimbingan pemerintah. Mereka perlu dibangkitkan dengan fasilitas, seperti gedung sekolah yang layak," pintanya.

Untuk anak-anak muda, pesannya sederhana namun penuh makna: "Apa yang kamu suka, gapailah. Lakukanlah prosesnya. Kalah itu biasa, itu menjadi pengalaman dan pembelajaran. Semua ada jalannya."

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....