Prof Faris Al-Fadhat: Dari Kampung Sumbawa hingga Pimpin Kampus di Timur Indonesia
- 23 Jul 2026 08:57 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Di tengah gencarnya pembangunan sumber daya manusia di Indonesia Timur, hadir sosok inspiratif yang memimpin Universitas Muhammadiyah (UM) Maluku. Ia adalah Prof. Faris Al-Fadhat, Ph.D., seorang akademisi muda yang menginjak usia 40 tahun namun telah menyandang gelar profesor.
Perjalanan hidupnya menarik untuk disimak. Lahir dan besar di lingkungan kampung di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, ia tumbuh dalam keterbatasan yang justru menjadi batu loncatan untuk meraih mimpi-mimpi besar. Kini, ia dipercaya memimpin perguruan tinggi di Bumi Seribu Pulau, Maluku.
Masa Kecil yang Sarat dengan Keterbatasan dan Kebersamaan
Kenangan masa kecil Prof. Faris sangat lekat dengan kehidupan kampung yang sederhana. Ia mengisahkan bagaimana kehadiran listrik di kampung halamannya hanya dapat dinikmati pada waktu-waktu tertentu.
"Kalau siang tidak ada listrik. Baru menyala pukul 4 sore sampai pagi hari pukul 6.00," kenangnya.
Namun demikian, keterbatasan itu justru menciptakan ruang bagi interaksi sosial yang lebih erat. Ia dan teman-teman sebaya lebih banyak menghabiskan waktu bermain di sawah dan bukit, sebuah pengalaman yang mungkin sangat berbeda dengan generasi masa kini.
"Bermain dengan teman-teman di kampung terasa lebih kuat dan terasa nyata," ujarnya.
Dari lingkungan yang serba terbatas itulah Prof. Faris mengaku menempa mental baja. Ia tidak mudah patah semangat ketika menghadapi kegagalan di kemudian hari. "Kami sudah biasa gagal, sudah biasa terbatas. Karena sudah terbiasa, ketika dewasa dan menghadapi kegagalan, itu terasa biasa," ungkapnya dengan nada rendah hati.
Inspirasi dari Ayah dan Senior di Pesantren
Setiap tokoh besar pasti memiliki sumber inspirasi. Bagi Prof. Faris, inspirasi utama datang dari sang ayah. Meskipun latar belakang pendidikan sang ayah hanya sampai jenjang SMA, namun beliau memiliki impian yang sangat besar. Sang ayah kerap bercerita tentang teman-temannya yang berhasil meraih pendidikan tinggi di Jakarta dan meraih kesuksesan.
"Dia menanamkan inspirasi bahwa saya harus kuliah sampai doktor," ucapnya mengenang pesan sang ayah yang telah tiada.
Inspirasi lain datang dari seorang senior di pondok pesantren yang sedang menempuh pendidikan di Malaysia. Senior tersebut rajin mengirimkan kartu pos yang menggambarkan kehidupan di negeri orang. Bayangan tentang petualangan dan pengalaman baru itulah yang kemudian membangkitkan tekadnya untuk tidak hanya menetap di Sumbawa, melainkan merantau ke Jawa dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Perjalanan Akademik dan Kembali ke Indonesia Timur
Setelah menyelesaikan pendidikan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, ia melanjutkan studi magister di Universitas Gadjah Mada, kemudian menempuh program doktoral di Australia. Di usia ke-40, ia telah menyandang gelar profesor atau guru besar.
Puncaknya, ia mendapatkan amanah dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk memimpin Universitas Muhammadiyah Maluku. Tugas ini bukanlah perkara mudah, namun Prof. Faris mengaku tidak merasa asing dengan kondisi di Indonesia Timur.
"Saya merasa bagian dari Indonesia Timur. Kakek dari ibu saya adalah orang Makassar. Jadi ketika ke sini, saya sampaikan bahwa saya juga orang timur," tuturnya.
Membangun Kampus Inklusif untuk Semua Lapisan Masyarakat
Sejak menjabat sebagai rektor, Prof. Faris langsung tancap gas membenahi berbagai aspek di UM Maluku. Visinya sederhana namun sangat bermakna: menjadikan UM Maluku sebagai jembatan pendidikan bagi seluruh masyarakat Maluku, tanpa memandang latar belakang suku, agama, atau status ekonomi.
"Universitas Muhammadiyah Maluku harus hadir untuk semua warga Maluku. Tidak boleh hanya untuk satu kelompok atau satu agama. Harus hadir untuk semua latar belakang," tegasnya.
Komitmennya mulai terlihat nyata. Dalam waktu kurang dari empat bulan masa kepemimpinannya, telah dibuka empat program studi baru, yakni Administrasi Kesehatan, Perencanaan Wilayah dan Kota, Hukum Bisnis, serta Bisnis Digital. Selain itu, jumlah mahasiswa juga mencatat peningkatan.
Tahun lalu, jumlah mahasiswa hanya sekitar 80 orang. Kini, angka tersebut melonjak menjadi 120 mahasiswa. Bahkan, pada periode berikutnya, jumlahnya bertambah menjadi 260 mahasiswa. Ini menunjukkan kepercayaan masyarakat mulai terbangun.
"Kami ingin menyampaikan ke masyarakat bahwa kami serius. Kami bertemu dengan pejabat pemerintah, mengundang beberapa menteri, gubernur, dan walikota untuk melihat langsung. Alhamdulillah, mereka menyapa mahasiswa dan masyarakat jadi yakin," jelasnya.
Target Ambisius: 3.000 Mahasiswa dan Dosen Berpendidikan Doktor
Prof. Faris memiliki mimpi besar untuk masa depan UM Maluku. Ia menargetkan kampus ini dapat menampung 3.000 mahasiswa dalam beberapa tahun ke depan. Baginya, mencetak 3.000 generasi terdidik adalah kontribusi luar biasa bagi kemajuan Provinsi Maluku.
"Bayangkan kalau kita mendidik 3.000 mahasiswa. Itu luar biasa. Itu berarti kita mencetak generasi terdidik di Maluku. Kalau Maluku mau maju, kuncinya ada di pendidikan," ujarnya penuh semangat.
Untuk mencapai target tersebut, ia menyadari bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama para dosen, adalah prioritas utama. Ia mendorong para dosen untuk terus belajar dan melanjutkan pendidikan ke jenjang doktor dan profesor.
"Kalau jadi dosen, harus punya cita-cita menjadi profesor. Tidak bisa berpangku tangan. Saya bilang ke para dosen, 'Bapak Ibu harus kuliah lagi, harus S3'. Karena itulah ilmunya sebagai dosen," katanya.
Ia mengaku sengaja sedikit memaksa para dosen untuk terus maju. "Saya kira tidak apa-apa memaksa demi kemajuan," tambahnya sembari tersenyum.
Mengubah Pola Pikir Melalui Pendidikan
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Prof. Faris adalah mengubah pola pikir atau kultur masyarakat. Ia meyakini bahwa cara terbaik untuk mengubah pola pikir adalah melalui pendidikan yang dikelola dengan baik.
"Kalau kita memberikan pendidikan yang baik, maka pola pikir itu akan pelan-pelan mengikuti. Kalau tidak dikelola dengan baik, pola pikir tidak akan berubah," jelasnya.
Ia juga menyoroti fenomena rendahnya tingkat pendidikan di Indonesia, di mana sebagian besar penduduk hanya berpendidikan SMP dan SMA. Dengan latar belakang pendidikan yang demikian, masyarakat menjadi rentan terhadap informasi yang tidak terfilter, terutama di era digital saat ini.
"Ini tantangan kita. Kita harus naikkan tingkat pendidikan ke perguruan tinggi. Kalau sudah punya kesempatan di perguruan tinggi, mereka punya mekanisme untuk memfilter informasi," tuturnya.
Mengambil Pelajaran dari Korea Selatan
Menariknya, Prof. Faris sering membandingkan Indonesia dengan Korea Selatan. Ia mengamati bahwa pada tahun 1970-an, kondisi ekonomi Indonesia dan Korea Selatan relatif sama-sama rendah. Namun, Korea Selatan kini telah melesat menjadi negara maju.
"Kenapa Korea bisa maju dan kita tidak? Saya melihat sistem politik dan ekonominya hampir sama. Demonstrasi di Korea banyak, partai politiknya banyak, tapi mereka tetap maju. Ada hal-hal yang bisa kita duplikasi," ungkapnya.
Ia menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Pendapatan domestik bruto (GDP) Indonesia sudah masuk 20 besar dunia. Namun, penghasilan per kapita masyarakat masih rendah, sekitar 6,4 juta rupiah per bulan, sementara negara-negara maju sudah di atas 100 juta rupiah per bulan pengeluarannya.
"Mengapa kita belum bisa maju? Saya melihat sistem politik kita belum memungkinkan. Masih ada korupsi, kesempatan bekerja hanya terbatas bagi orang-orang tertentu. Harus ada meritokrasi, memberi kesempatan kepada siapa pun yang mampu," tegasnya.
Optimisme untuk Masa Depan
Di akhir perbincangan Figur Inspirasi di Pro 1 RRI Ambon, Prof. Faris menyampaikan optimisme yang besar terhadap masa depan pendidikan di Maluku. Ia percaya bahwa Ambon, sebagai ibukota Provinsi Maluku, memiliki potensi untuk menjadi pusat pendidikan di kawasan timur Indonesia.
"Saya percaya suatu saat Ambon akan menjadi pusat pendidikan. Karena Ambon ini ibukota dari ribuan pulau di Maluku. Kalau kita mengembangkan pendidikan dengan baik, orang-orang di Maluku akan melihat bahwa kunci kemajuan adalah pendidikan," pungkasnya.
Ia menambahkan, "Kami percaya pendidikan adalah jembatan dialog antar masyarakat, antar etnis, antar agama. Universitas Muhammadiyah Maluku harus hadir untuk semua. Dengan begitu, kita baru bisa merubah masyarakat dan memimpikan Maluku yang lebih maju."
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....