Generasi Muda Mengubah Wajah Pertanian Menjadi Bisnis Masa Depan
- 09 Sep 2026 12:48 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BPS mencatat jumlah petani milenial berusia 19-39 tahun masih mencapai 21,93 persen, menunjukkan tantangan signifikan dalam regenerasi petani Indonesia.
- Audri Syahroni, lulusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Purwokerto, membuktikan bahwa generasi muda dapat beralih ke pertanian modern dengan mengembangkan lahan cabai seluas 2.000 meter persegi.
- Pertanian modern membuka peluang baru bagi generasi muda untuk melihat sektor pertanian sebagai ruang usaha, inovasi, dan bisnis masa depan yang menguntungkan.
Regenerasi petani menjadi tantangan bagi sektor pertanian Indonesia. BPS mencatat jumlah petani milenial berusia 19–39 tahun masih 21,93 persen. Di tengah kondisi itu, pertanian modern membuka peluang bagi generasi muda untuk melihat sektor ini sebagai ruang usaha, inovasi, dan bisnis masa depan.
--oo--
HAMPARAN tanaman cabai seluas sekitar 2.000 meter persegi menjadi tempat baru bagi Audri Syahroni, 25 tahun, menapaki perjalanan hidup setelah lulus dari Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Pilihan tersebut membawa Audri pada dunia pertanian yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan ketika masih duduk di bangku kuliah.
Pukul tiga sore, hasil panen cabai dari lahan di Desa Tambaksogra, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, mulai bergerak menuju pasar. Cabai yang baru dipetik dikumpulkan, diangkut, kemudian disortir untuk menjaga kualitas sebelum sampai ke tangan pembeli.
Rutinitas tersebut kini menjadi bagian dari keseharian Audri. Ilmu Teknik Sipil yang pernah dipelajarinya di bangku kuliah berjalan beriringan dengan pengalaman baru mengelola lahan dan hasil pertanian.

Audri Syahroni bersama komunitas Muda Tani menggunakan sistem penyemprotan otomatis dan irigasi tetes dengan konsep Internet of Things atau IoT (Foto: Muda Tani)
Teknologi pertanian tidak selalu harus diterapkan dalam bentuk yang paling canggih. Bagi Audri, teknologi harus mampu menjawab persoalan yang dihadapi petani di lapangan.
Pemerintah Kabupaten Banyumas sebelumnya telah memfasilitasi penggunaan drone untuk mendukung kegiatan pertanian. Namun, Audri memilih tidak menggunakan teknologi tersebut karena kondisi angin di wilayahnya. Ia menilai sistem irigasi bawah tanah lebih sesuai dengan kebutuhan tanaman cabai yang dikelolanya.
Pengalaman Audri itu menunjukkan pertanian modern bukan sekadar menggunakan teknologi terbaru, tetapi memilih teknologi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan lahan. “Teknologi bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman. Teknologi harus benar-benar menyelesaikan persoalan yang ada di lahan.”
Perkembangan teknologi juga membuka peluang baru dalam pemasaran hasil pertanian. Pemanfaatan platform digital dan pasar daring membantu petani memperpendek rantai distribusi, mengenalkan produk secara lebih luas, serta mengembangkan komoditas menjadi produk bernilai tambah.
Pengalaman tersebut mulai diterapkan Audri bersama komunitas Muda Tani yang pada batch pertama akhir 2025 mampu menjaring 30 petani muda. Setelah sebelumnya memasarkan cabai melalui Pasar Sokaraja, mereka mulai mencoba pemasaran melalui pasar digital dan marketplace.
Hasil panen pun tidak berhenti sebagai komoditas segar. Muda Tani mulai mengembangkan produk olahan seperti sambal belacan, sambal terasi, dan sambal cumi. Bagi Audri, pertanian tidak hanya berbicara tentang produksi, tetapi juga bagaimana sebuah produk memiliki nilai tambah dan mampu menemukan pasarnya.

Cabai menjadi ruang belajar sekaligus laboratorium bisnis bagi Audri bersama Muda Tani. Tanaman tersebut mulai ditanam pada akhir Desember 2025 dan memasuki panen pertama pada 15 Maret 2026 dengan hasil sekitar 2,5 kilogram. Pada petikan kesembilan hingga ke-15, hasil panen dalam satu kali petik pernah mencapai sekitar 1,5 kuintal. Dalam kurun waktu lima bulan, total produksi mendekati 1 ton.
Bagi Audri, angka produksi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Proses tersebut mengajarkannya bahwa menjadi petani berarti memahami seluruh rantai usaha, mulai dari budidaya, panen, sortasi, distribusi, pemasaran, hingga pengembangan produk.
“Yang ditanam di lahan pada akhirnya harus menemukan konsumen,” ujarnya.
Pengalaman tersebut memperlihatkan perubahan wajah pertanian bagi generasi muda. Petani tidak lagi hanya dipandang sebagai penghasil komoditas, tetapi juga sebagai pelaku usaha yang mengelola produksi, teknologi, keuangan, pemasaran, serta hubungan dengan konsumen.
Perubahan cara pandang itu terlihat dari sejumlah petani muda yang mulai mengembangkan usaha berorientasi pasar. Satrea Amambi, misalnya, mengembangkan bisnis kopi hingga menembus pasar Arab Saudi, Qatar, Eropa, Singapura, dan Jepang. Untuk pasar Jepang, produknya tercatat mencapai sekitar 1,4 ton ekspor pada 2022.
Kisah petani muda yang mengembangkan usaha berbasis pertanian juga hadir dari berbagai daerah. Mereka menunjukkan bahwa sektor pertanian memiliki peluang yang luas ketika dikelola melalui pendekatan bisnis, inovasi, dan akses pasar.
Gusti Ayu Ngurah Megawati di Pacitan mengembangkan usaha gula aren bersama petani setempat hingga berhasil mengekspor 1,3 ton gula aren cair ke Kanada. Sementara itu, Aldy Ridwan dari Lembang, Bandung Barat, memilih meninggalkan karier di sektor minyak dan gas untuk mengembangkan tanaman kaktus hingga memasuki pasar ekspor.
Pengalaman serupa datang dari Agung Weda di Bali yang mengembangkan agribisnis hortikultura bersama petani muda. Komoditas manggis dan mangga yang dikembangkannya telah menembus pasar ekspor.
Di Bandung Barat, Ulus Pirmawan, Duta Petani Andalan sekaligus Duta Petani Milenial, mengembangkan agribisnis sayuran sekaligus membangun jaringan petani untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.
Berbagai kisah tersebut menunjukkan bahwa pertanian dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk berkembang. Mereka tidak hanya berperan sebagai petani, tetapi juga dapat menjadi pengusaha, pengelola teknologi, pengembang produk, pencipta lapangan kerja, hingga bagian dari rantai pasok global.

Regenerasi petani menjadi salah satu agenda strategis dalam pembangunan pertanian. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Dr. Idha Widi Arsanti, SP, MP, mengatakan generasi muda tidak hanya diharapkan menggantikan peran petani sebelumnya, tetapi juga tumbuh sebagai pelaku agribisnis yang profesional, modern, produktif, dan berorientasi bisnis.
“Menjadi petani hari ini bukan berarti kembali ke masa lalu. Justru menjadi petani adalah masuk ke bisnis masa depan,” kata Santi, panggilan akrab Idha Widi Arsanti.
Pandangan tersebut menjadi penting karena sektor pertanian menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan iklim, kebutuhan peningkatan produktivitas, keterbatasan tenaga kerja, perkembangan teknologi, dinamika pasar, hilirisasi, hingga persaingan global membutuhkan sumber daya manusia pertanian yang memiliki kemampuan baru.
Upaya regenerasi petani terus diperkuat melalui berbagai program pengembangan sumber daya manusia pertanian. Data BPPSDMP menunjukkan, sepanjang 2020-2024, Kementerian Pertanian telah memfasilitasi terbentuknya 168.948 petani milenial. Pada 2025, sebanyak 326.671 petani milenial tercatat telah mendapatkan fasilitasi melalui berbagai program pengembangan kapasitas dan pemberdayaan. (Sumber: LAKIN 2025)
Sepanjang 2025, Kementan mencatat 416.667 petani milenial terlibat dalam berbagai program pertanian nasional. Sebuah capaian yang mendapat pengakuan rekor MURI. Salah satu instrumen utamanya adalah Brigade Pangan, yang didampingi 38.235 penyuluh. (Sumber: bppsdmp.pertanian.go.id)
“Melalui Brigade Pangan, misalnya, anak muda tidak hanya ditempatkan sebagai tenaga kerja di sawah, tetapi didorong menjadi pengelola usaha tani secara profesional,” ujar Santi.
Melalui pendekatan tersebut, petani muda diperkenalkan pada penggunaan alat dan mesin pertanian, manajemen usaha, pembukuan, analisis kelayakan usaha, perhitungan biaya produksi, hingga pengembangan pasar. Kemampuan teknis dan bisnis menjadi bagian penting dalam membentuk petani muda yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Peran penyuluh pertanian juga terus berkembang. Penyuluh tidak hanya menyampaikan informasi mengenai teknik budidaya, tetapi turut mendampingi petani dalam menghubungkan pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan nyata di lapangan.

Peran penyuluh pertanian dalam mendampingi generasi muda terlihat dari pengalaman Asna Apriani Kurnia Santoso, SP., Penyuluh Pertanian BPP Sumbang. Selama sekitar dua tahun mendampingi komunitas Muda Tani, Asna melihat bahwa karakter anak muda membutuhkan pola pendampingan yang lebih cepat, adaptif, dan sesuai kebutuhan di lapangan.
“Sebagai penyuluh pendamping, kita harus gercep,” kata Asna yang telah 11 tahun menjalankan tugas sebagai penyuluh pertanian.
Menurut Asna, petani muda sering membawa informasi baru dari berbagai sumber, termasuk YouTube. Informasi tersebut perlu dikaji dan disesuaikan agar pengetahuan yang diperoleh dari ruang digital dapat diterapkan sesuai kondisi lahan.
Ketertarikan anak muda terhadap komoditas hortikultura juga menjadi salah satu peluang dalam regenerasi petani. Menurutnya, tanaman dengan siklus produksi yang lebih cepat membuat generasi muda lebih mudah melihat hasil dari proses budidaya yang dilakukan.
“Petani muda lebih tertarik hortikultura, jadi lebih komoditas yang cepat,” ujarnya.
Pendampingan kepada petani muda dilakukan melalui pelatihan dan pertemuan langsung di lapangan. Jadwal kegiatan tetap disusun, tetapi pelaksanaannya menyesuaikan kondisi serta kebutuhan petani.
Di Sumbang, pengenalan teknologi dilakukan melalui berbagai praktik pertanian modern. Drone dimanfaatkan untuk penyemprotan hama dan penyakit, sementara irigasi tetes dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi budidaya. Inovasi lain juga diperkenalkan melalui Budidaya Melon dalam Galon atau “Bu Mega”.
Bagi Asna, teknologi bukan sekadar menghadirkan alat baru dalam pertanian. Teknologi menjadi cara untuk menunjukkan kepada generasi muda bahwa sektor pertanian dapat dikelola secara modern dan sesuai perkembangan zaman.
“Paling nyata itu tadinya soal budidaya komoditas, misalnya cabai, tapi setelah diajak banyak program akhirnya mereka paham dan mulai bergerak dalam pertanian secara menyeluruh,” ujarnya.
Pendekatan tersebut sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2025 tentang Pendayagunaan Penyuluh Pertanian dalam Rangka Percepatan Swasembada Pangan. Kebijakan ini memperkuat peran penyuluh sekaligus mengintegrasikan pendampingan di lapangan melalui berbagai program pembangunan pertanian.
Penguatan regenerasi juga dimulai dari pendidikan. Melalui Penerimaan Mahasiswa Baru Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) dan Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) Tahun Akademik 2026/2027, BPPSDMP membuka kesempatan bagi generasi muda untuk menempuh pendidikan vokasi pertanian melalui kuota 1.592 mahasiswa. Kebijakan tersebut memberikan keberpihakan hingga 70 persen bagi anak petani sebagai bagian dari upaya mencetak generasi baru pertanian.
“Regenerasi bukan hanya tentang jumlah, tetapi juga tentang kualitas generasi yang menggantikan petani sebelumnya,” kata Santi.
Kebutuhan terhadap generasi baru di sektor pertanian semakin penting karena berkaitan langsung dengan ketahanan pangan nasional. Regenerasi petani tidak hanya berbicara mengenai jumlah tenaga kerja yang masuk ke sektor pertanian, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia dalam meningkatkan produktivitas, mengelola usaha, serta menciptakan nilai tambah.
BPS mencatat produksi padi nasional pada 2025 mencapai 60,21 juta ton gabah kering giling (GKG), setara sekitar 34,69 juta ton beras untuk konsumsi. Produksi beras tersebut meningkat 13,29 persen dibandingkan 2024, sementara produksi jagung pipilan kering mencapai 16,16 juta ton pada tahun yang sama.
Peningkatan produksi menjadi modal penting untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Namun, pencapaian tersebut juga menghadirkan tantangan jangka panjang: siapa yang akan mempertahankan produktivitas pertanian Indonesia dalam 10 atau 20 tahun mendatang jika regenerasi petani tidak berjalan?
Pertanyaan tersebut membuat regenerasi petani menjadi bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan produksi pangan. Karena itu, pemerintah tidak hanya mendorong peningkatan produksi, tetapi juga menyiapkan generasi muda melalui program seperti Brigade Pangan, Polbangtan, hingga PEPI.
Penguatan sektor pertanian ke depan membutuhkan keterlibatan generasi muda yang mampu beradaptasi terhadap perubahan. Petani muda tidak hanya dibutuhkan untuk melanjutkan aktivitas produksi, tetapi juga untuk mengembangkan usaha, memanfaatkan teknologi, memperluas akses pasar, serta menciptakan inovasi di sektor pangan.
Karena itu, keberhasilan regenerasi petani tidak cukup diukur dari jumlah anak muda yang masuk ke lahan pertanian. Ukurannya juga terletak pada kemampuan mereka mengelola usaha, meningkatkan produktivitas, menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan.

Lahan cabai Audri di Tambaksogra menjadi salah satu gambaran kecil dari perubahan wajah pertanian. Di tempat tersebut, ilmu Teknik Sipil bertemu dengan teknologi irigasi, Internet of Things (IoT), budidaya, pemasaran digital, hingga pengembangan produk bernilai tambah.
Bagi Audri, pertanian tetap memiliki risiko dan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Namun, proses menghadapi berbagai tantangan membuatnya memahami bahwa pertanian bukan sekadar pekerjaan, melainkan perjalanan membangun usaha.
“Pertanian sangat menjanjikan ketika kita sudah mengalami jatuh bangun, kemudian bangkit dan menemukan kesuksesan,” ujarnya.
Bagi Asna, regenerasi petani memiliki arti yang lebih luas. Pertanian bukan hanya berkaitan dengan komoditas dan keuntungan, tetapi juga kemampuan bangsa dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
“Kalau ingin jadi negara yang kuat, regenerasi petani sangat penting karena berurusan dengan perut dan ketahanan pangan,” kata Asna.
Regenerasi petani bukan sekadar mengajak generasi muda turun ke lahan. Hal yang lebih penting adalah menghadirkan pengetahuan, teknologi, pendampingan, akses pasar, serta kesempatan bagi mereka untuk mengembangkan pertanian sebagai usaha yang berkelanjutan.
Pertanian modern kini membuka ruang yang lebih luas bagi generasi muda untuk berinovasi, membangun bisnis, menciptakan nilai tambah, dan membawa produk pertanian Indonesia menuju pasar yang lebih besar.
Bagi anak muda yang ingin terjun ke sektor pertanian, peluang untuk belajar dan berkembang tersedia melalui sejumlah program pemerintah. Brigade Pangan, Polbangtan, hingga PEPI menjadi beberapa jalur yang dapat dimanfaatkan generasi muda untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman di sektor pertanian.*
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....