Dilema Warga Pulau Banyak, Kapal Kayu Masih jadi Urat Nadi Transportasi
- 28 Sep 2026 23:51 WIB
- Aceh Singkil
RRI.CO.ID, Singkil - Mobilitas masyarakat yang bepergian dari kawasan Anak Laut atau Singkil menuju Pulau Banyak, serta sebaliknya, hingga kini masih bergantung pada sarana yang kurang ideal.
Banyak warga terpaksa menumpang kapal kayu berjenis kapal kargo, yang sebenarnya diperuntukkan khusus untuk membawa barang-barang.
Menanggapi fenomena ini, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Aceh Singkil, Syam'un, S.ST, menegaskan bahwa armada kayu pengangkut barang tersebut sama sekali tidak direkomendasikan untuk memobilisasi penumpang demi menjaga jaminan keselamatan di laut.
Namun, faktor keterbatasan jadwal transportasi resmi menjadi alasan utama masyarakat tetap memilih opsi berisiko tersebut.
"Kapal kayu ini yang mobilisasi masyarakat dari anak laut atau dari singkil ke Pulau Banya ini adalah merupakan kapal barang, Kapal kargo yang diperuntukkan membawa barang-barang,sehinggaapal ini sebenarnya tidak kita rekomendasi untuk penumpang,"sebut Kepala Dinas Perhubungan Aceh Singkil, Syam'un, Senin, 28 September 2026.

Syam'un menjelaskan, jadwal pelayaran armada ferry resmi menuju Pulau Banyak saat ini hanya tersedia beberapa kali dalam seminggu. Sementara tuntutan kebutuhan dan mobilitas harian masyarakat, terus berjalan setiap hari.
"Bahkan kondisi yang lebih memprihatinkan terjadi pada warga dari Pulau Banyak Barat yang hendak menuju Singkil, di mana kapal kayu pengangkut barang terpaksa menjadi satu-satunya urat nadi transportasi yang tersedia tanpa adanya pilihan alternatif lain,"tegasnya.
Menyikapi keterpaksaan warga di lapangan, Syam'un menegaskan Dinas Perhubungan bersama pihak terkait terus mengupayakan langkah antisipasi guna memperkecil ruang terjadinya kecelakaan laut yang tidak diinginkan.
Salah satu fokus utamanya adalah memastikan kelengkapan alat keselamatan di atas kapal kayu. Kemudian otoritas setempat gencar mengimbau para pemilik armada untuk melengkapi fasilitas penyelamatan standar.
"Sebagai bentuk tindakan nyata, pihak perhubungan bahkan telah menyalurkan bantuan berupa jaket keselamatan (life jacket) secara berkala kepada pengelola kapal," bebernya.
Selain kelengkapan alat keselamatan, ketegasan para kapten kapal dalam membaca situasi cuaca menjadi kunci utama yang ditekankan oleh Syam'un. Para nakhoda diminta untuk aktif berkoordinasi dengan pihak syahbandar guna memantau prakiraan cuaca terkini.
Dengan modal pengalaman yang dimiliki, para kapten kapal diharapkan mampu mengambil keputusan yang objektif dan berani. Jika kondisi cuaca di perairan buruk dan membahayakan keselamatan, maka keberangkatan harus segera dibatalkan atau diputuskan tidak berlayar tanpa ada keraguan.
Di sisi lain, Dinas Perhubungan mengimbau masyarakat yang berada di wilayah Singkil agar lebih selektif dengan mengutamakan perjalanan menggunakan jadwal kapal ferry resmi yang sudah teratur. Namun, bagi masyarakat di Pulau Banyak yang belum memiliki opsi ferry harian, peran kapten kapal yang mumpuni menjadi tumpuan harapan satu-satunya.
Setiap kapal kargo kayu yang terpaksa membawa penumpang diwajibkan memastikan kondisi cuaca benar-benar aman sebelum bertolak serta wajib menjalin komunikasi dan konektivitas yang kuat dengan pihak otoritas pelabuhan sepanjang perjalanan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....