Peringati Hari Damai Aceh, Pemko Subulussalam Gelar Zikir Bersama di Masjid Agung

  • 15 Agt 2026 22:18 WIB
  •  Aceh Singkil

RRI.CO.ID, Subulussalam - Pemerintah Kota (Pemko) Subulussalam menggelar majelis Zikir Damai di Masjid Agung Kota Subulussalam pada Jumat 14 Agustus 2026 Malam. Agenda keagamaan tersebut diselenggarakan secara khidmat dalam rangka memperingati Hari Damai Aceh ke-21 tahun 2026.

Kegiatan itu dihadiri oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Subulussalam, Asrul Assani, yang hadir mewakili Wali Kota Subulussalam. Selain itu, majelis zikir juga diikuti oleh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), jajaran DPRK, kepala SKPK, camat, pimpinan dayah, tokoh agama, serta elemen organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan setempat.

Peringatan ini menjadi momentum penting bagi seluruh lapisan masyarakat dan jajaran pemerintah daerah untuk merenungi, mensyukuri, serta merawat nikmat perdamaian yang telah tercipta di Bumi Serambi Mekkah. Melalui lantunan zikir dan doa bersama, Pemko Subulussalam berharap ikatan persaudaraan dan persatuan antarwarga dapat terjalin semakin erat.

Sekda Kota Subulussalam, Asrul Assani, menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas suksesnya penyelenggaraan zikir akbar tersebut. Ia menegaskan bahwa kegiatan serentak di seluruh kabupaten/kota ini dilaksanakan berdasar pada instruksi Sekda Provinsi Aceh sebagai rangkaian peringatan yang bermuara di Banda Aceh.

"Alhamdulillah, kita telah menyukseskan kegiatan Zikir Akbar Perdamaian Aceh ke-21 ini. Seluruh unsur Forkopimda, SKPK, camat, tokoh masyarakat, hingga pimpinan dayah turut memberikan dukungan penuh. Semoga kegiatan ini membawa keberkahan dan memantapkan kedamaian hakiki di tanah Aceh," ujar Asrul Assani.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Dayah Kota Subulussalam, Qaharuddin Kombih, menilai bahwa majelis zikir dan doa merupakan sarana spiritual utama bagi umat Islam untuk memohon perlindungan dan keselamatan dari Allah SWT. Menurutnya, tradisi zikir seperti ini sangat perlu dirutinkan dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan.

Qaharuddin juga merefleksikan betapa berharganya kondisi aman saat ini jika dibandingkan dengan era konflik di masa lalu. Kala itu, hampir seluruh sektor kehidupan lumpuh—mulai dari pemerintahan yang terhambat, petani yang tidak tenang menggarap sawah, anak-anak yang ketakutan pergi sekolah, hingga perekonomian yang sulit berkembang.

"Damai itu indah dan mahal harganya. Saat ini kita bisa melihat anak-anak belajar dengan tenang, petani bekerja tanpa rasa cemas, dan perekonomian terus berputar. Kami berharap tidak ada lagi provokasi atau rongrongan yang merusak kedamaian ini, agar Aceh tetap damai di dunia dan akhirat," pungkas Qaharuddin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....