Dari Lamteh ke Helsinki: Aceh Diingatkan Jangan Lupakan Harga Damai
- 15 Agt 2026 09:29 WIB
- Aceh Singkil
RRI.CO.ID, Subulussalam - Aktivis Aceh, Ridwan Husein, mengingatkan bahwa perdamaian di Aceh tidak datang secara gratis. Ia menyebut sejarah panjang konflik hingga tercapainya kesepakatan damai harus menjadi pelajaran agar tidak diulang generasi saat ini.
Menurutnya, ada dua tonggak penting dalam sejarah Aceh yang memiliki pesan sama. Pertama Ikrar Lamteh 1957 dan kedua MoU Helsinki 2005. Keduanya lahir dari kondisi berbeda namun memiliki benang merah yang sama.
"Ikrar Lamteh 1957 dan MoU Helsinki 2005 adalah dua peristiwa berbeda zaman, tetapi memiliki satu pesan yang sama: perang tidak pernah meninggalkan kemenangan bagi rakyat—yang tersisa adalah air mata, kehilangan dan luka," kata Ridwan Husein kepada RRI, Jumat 14 Agustus 2026.
Ia menilai perdamaian tidak boleh diperlakukan sebagai dokumen seremonial yang hanya dibuka saat dibutuhkan. Ketika kepentingan politik berubah, semangat perdamaian kerap dilupakan.
"Jangan jadikan perdamaian sebagai sekadar dokumen yang dibaca ketika diperlukan, lalu dilupakan ketika kepentingan politik berubah," ujarnya.
Ridwan menjelaskan, Lamteh mengajarkan pentingnya menghentikan pertumpahan darah. Sementara Helsinki mengajarkan pentingnya menjaga komitmen setelah senjata dibungkam. Dua nilai itu menurutnya harus berjalan beriringan.
"Tanggung jawab kita hari ini bukan membuka kembali luka lama, tetapi memastikan bahwa darah dan penderitaan rakyat Aceh dahulu tidak menjadi sia-sia," katanya.
Ia juga mengingatkan agar tidak ada pihak yang menjadikan proses damai sebagai alat politik. Menurutnya, memanfaatkan penderitaan rakyat untuk kepentingan sesaat sama saja mengkhianati amanah sejarah.
"Jangan ada pihak yang menjadikan perdamaian sebagai panggung untuk menari di atas penderitaan rakyat. Perdamaian bukan milik pemerintah, bukan milik kelompok, bukan milik elite politik. Perdamaian adalah milik rakyat," ujarnya.
Ridwan menekankan, menjaga perdamaian adalah amanah kolektif. Ia menolak jika kesepakatan damai ditawar-tawar demi keuntungan politik jangka pendek.
"Amanah perdamaian harus dijaga—bukan ditawar-tawar demi kepentingan sesaat. Dari Lamteh ke Helsinki, sejarah telah membayar mahal. Jangan biarkan generasi hari ini membayar untuk kesalahan yang sama," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....