Minim Anggaran, Penjurian FLS3N SMA Subulussalam Panen Protes

  • 01 Mei 2026 12:27 WIB
  •  Aceh Singkil

RRI.CO.ID, Subulussalam - Pelaksanaan Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat SMA/SMK se-Kota Subulussalam yang digelar pada Kamis 30 April 2026. berakhir ricuh dengan gelombang protes. Sejumlah guru pendamping meluapkan kekecewaannya lantaran mendapati berbagai kejanggalan teknis yang dinilai mencoreng kredibilitas ajang bergengsi bagi siswa menengah tersebut.

Kritik tajam menyasar pada sistem penjurian yang dianggap tidak profesional karena satu orang juri dipaksa merangkap hingga tiga cabang lomba sekaligus. Kondisi ini memicu kekhawatiran terkait objektivitas penilaian, mengingat tidak adanya pembanding juri lain dalam satu mata lomba sehingga keputusan mutlak hanya berada di tangan satu orang.

Akibat perangkapan tugas tersebut, jadwal perlombaan menjadi berantakan dan merugikan waktu para peserta. Sebagai contoh, cabang lomba jurnalistik yang seharusnya dimulai pada pagi hari terpaksa molor hingga pukul 12.00 WIB, karena juri harus menyelesaikan penilaian pada cabang lomba monolog terlebih dahulu.

Persoalan kompetensi juga menjadi sorotan, di mana panitia lebih memilih guru dari luar daerah ketimbang praktisi ahli. Hal ini berdampak pada penilaian yang dianggap tidak memahami karakteristik budaya lokal Kota Subulussalam, terutama saat juri mempertanyakan narasumber dari Majelis Adat Aceh (MAA) dalam karya jurnalistik siswa.

Selain masalah teknis, etika juri di lapangan pun tak luput dari laporan miring para guru pendamping. Terdapat laporan mengenai oknum juri yang kedapatan mengantuk saat siswa sedang tampil, yang dinilai sangat tidak menghargai usaha keras para siswa yang telah berlatih selama berbulan-bulan.

Menanggapi berbagai protes tersebut, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdin) Wilayah Subulussalam, Antoni Bermpu, mengakui adanya keterbatasan dalam pelaksanaan tahun ini. Ia menyebut bahwa pihaknya tetap berupaya berpedoman pada Petunjuk Teknis (Juknis) Nasional meski dalam kondisi yang sulit.

"Tentu karena keterbatasan kemampuan pegawai Cabdin yang terbatas, kita minta bantu untuk orang-orang yang kompeten di bidangnya. Ada masukan supaya juri dicampur dari lokal dan luar, sehingga kami meminta bantuan guru-guru berkompeten dari Aceh Selatan," ujar Antoni.

Terkait isu juri yang merangkap tugas, Antoni berdalih bahwa hal tersebut terpaksa dilakukan karena kendala finansial. Ia mengungkapkan bahwa Cabdin Subulussalam saat ini berada dalam kondisi anggaran yang kosong untuk pelaksanaan seleksi tahun ini.

"Dalam aturan tidak dilarang, meski idealnya juri berbeda. Cuma dengan kondisi kita, anggaran tahun ini kosong. Jadi kita lakukan secara gotong royong dengan juri yang memiliki irisan pengalaman di beberapa bidang, namun kami pastikan tidak menilai dalam waktu yang bersamaan," tambahnya.

Ia menambahkan mengenai insiden juri yang mengantuk, Antoni meminta publik untuk memaklumi sisi kemanusiaan tanpa mendiskreditkan hasil akhir penilaian. "Kalau ada spill juri mengantuk, itu manusiawi, tidak ada yang sempurna. Tapi kami percaya pada kacamata penilaian mereka dan tidak mungkin melakukan intervensi," tutupnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....