Bencana Alam: Sapaan dari Alam yang Tertindas
- 08 Mar 2026 23:40 WIB
- Aceh Singkil
RRI.CO.ID, Aceh Singkil : Ibadah di bulan Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga memperbaiki hubungan manusia dengan Sang Pencipta dan seluruh ciptaan-Nya, termasuk alam semesta. Banjir yang melanda Sumatera dan Aceh, merupakan peringatan bagi kita semua untuk mengevaluasi kembali cara kita memperlakukan bumi.
Dalam dialog Ramadan RRI Singkil, Minggu 8 Maret 2026, Ustadz Dahuri dari Yayasan Haka dakwah lingkungan Aceh Singkil, menyampaikan pesan mendalam bahwa bencana alam bukanlah sekadar fenomena teknis, melainkan bentuk 'sapaan' dari alam yang mulai lelah tertindas.
"Bencana alam yang kita alami sebelumnya, banjir, longsor, sebenarnya adalah 'sapaan' dari alam. Alam ini makhluk Allah yang hidup, dan mereka menyapa kita dengan cara mereka karena merasa tertindas oleh ketamakan manusia," ujar Ustadz Dahuri.
Selain itu, Ustadz Dahuri menekankan bahwa kondisi bumi saat ini sedang tidak baik-baik saja. Penebangan hutan, pencemaran sungai, hingga alih fungsi lahan yang tak terkendali telah menempatkan alam pada titik yang sangat mengkhawatirkan.
Ustadz Dahuri juga menambahkan bahwa momentum Ramadan seharusnya menjadi ajang 'taubat ekologis'. Beliau mengajak masyarakat Singkil untuk mulai menghargai ekosistem hutan dan rawa sebagai warisan bagi generasi mendatang.
Menurutnya, menjaga lingkungan adalah bagian dari manifestasi ibadah. Jika manusia terus menindas alam dengan keserakahan, maka alam akan terus 'berteriak' melalui bencana hingga manusia tersadar akan perannya sebagai pelindung bumi.
Ustadz Dahuri mengingatkan kita semua bahwa kelestarian alam adalah tanggung jawab bersama. Semoga di sisa bulan suci ini, kita tidak hanya menyucikan hati, tetapi juga menyucikan bumi dari kerusakan.