Fenomena FOMO Bukber dan Tukar Kado
- 10 Mar 2025 18:01 WIB
- Aceh Singkil
KBRN, Aceh Singkil : Bulan Ramadan identik dengan tradisi buka bersama (bukber). Namun, di era media sosial, bukber tidak lagi sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi ajang eksistensi. Tidak heran, banyak orang merasa FOMO (Fear of Missing Out) jika tidak ikut serta.
"Setiap hari, saya melihat teman-teman mengunggah foto dan video bukber di Instagram. Rasanya seperti ada yang kurang jika saya tidak ikut," ujar Sarah kepada RRI saat ditemui disebuah acara bukber di Captain Mulia Aceh Singkil, Minggu (9/3/2025).
Fenomena FOMO ini semakin meriah dengan tren tukar kado saat bukber. Banyak orang merasa senang untuk memberikan kado agar tidak ketinggalan zaman.
"Saya bingung mencari kado sesuai inisial nama yang minim budget. Bukber inikan tujuannya untuk silaturahmi, jadi kado hanya pelengkap saja”, kata Eka ibu rumah tangga lain yang ikut bukber.
Ahli Psikologi Abidah Ayu, M.Psi menjelaskan, FOMO merupakan perasaan takut akan “merasa tertinggal” dari trend yang ada. Karena bukber saat ini bukan saja menjadi wadah silaturahmi melainkan ada tujuan dimana seseorang ingin menunjukkan eksistensi diri, seperti foto yang diunggah ingin mendapat like yang banyak, telihat memiliki banyak teman, ajang pamer, seperti membeli baju baru, dll.
"Perasaan ini diperkuat oleh media sosial, di mana orang-orang sering membagikan momen-momen bahagia mereka", jelas Abidah Ayu.
Ia menyarankan agar masyarakat lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan tidak mudah terpengaruh oleh tren yang tidak sesuai dengan kemampuan. Ia juga mengingatkan bahwa esensi Ramadan adalah meningkatkan ibadah dan mempererat silaturahmi, bukan sekadar mengikuti tren bukber dan tukar kado.
"Bukber dan tukar kado boleh saja dilakukan, asalkan tidak memberatkan dan tidak melupakan esensi Ramadan," pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....