Hadapi Kemarau, Petani Mulai Adopsi Benih Tahan Kering dan Teknologi AWD

  • 28 Mei 2026 01:16 WIB
  •  Aceh Singkil

RRI.CO.ID, Jakarta – Para petani di sejumlah wilayah sentra produksi pangan Indonesia mulai mempercepat pola tanam dan mengalihkan strategi budidaya guna menghadapi ancaman musim kemarau 2026. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kemarau tahun ini diprediksi masuk kategori bawah normal atau jauh lebih kering dengan durasi yang lebih panjang serta datang lebih awal, Rabu 27 Mei 2026.

Menyikapi fenomena iklim tersebut, komunitas petani di tingkat tapak kini ramai-ramai beralih menggunakan varietas padi berumur pendek (genjah) yang tahan terhadap keterbatasan air. Langkah proaktif ini diambil agar fase krusial pertumbuhan tanaman tidak terganggu oleh penurunan debit air irigasi yang diperkirakan terus menyusut hingga puncaknya pada semester kedua tahun ini.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengonfirmasi bahwa percepatan tanam dan pemilihan benih yang tepat menjadi kunci utama bagi para petani agar terhindar dari risiko gagal panen (puso). Petani diimbau mengoptimalkan sisa ketersediaan air tanah dengan menanam komoditas hortikultura atau varietas padi spesifik lahan kering.

“Petani perlu memanfaatkan varietas genjah dan tahan kekeringan, seperti Inpago 4–13, Inpari 38–46, Situbagendit, Situpatenggang, Padjadjaran, Cakrabuana, atau varietas sejenis lainnya agar produksi tetap terjaga meskipun menghadapi musim kemarau,” ujar Mentan Amran dalam keterangan resminya pada website Kementan RI.

Di sektor rill, gerakan adaptasi ini sudah mulai diadopsi secara masif oleh kelompok tani di berbagai provinsi dengan pendampingan dari Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP). Petani di Kepulauan Riau, misalnya, saat ini gencar menanam varietas Cakrabuana Agritan, sedangkan para petani di lahan kering Bali mulai mengandalkan benih jagung varietas Jakarin yang dikenal bandel pada kondisi minim air.

Selain mengganti jenis benih, para petani juga mulai menerapkan sistem pengairan berselang atau Alternate Wetting and Drying (AWD). Metode hemat air ini memicu efisiensi penggunaan air irigasi secara signifikan tanpa menurunkan volume produktivitas gabah saat masa panen tiba.

Kepala BRMP Kementan, Fadjry Djufry, menjelaskan bahwa penguatan inovasi di level petani merupakan benteng utama dalam menjaga stabilitas pasokan pangan nasional di tengah dinamika cuaca ekstrem. BRMP berkomitmen terus mengawal ketersediaan teknologi spesifik lokasi agar para petani memiliki panduan yang jelas dalam mengelola lahan kering.

“BRMP terus mendorong penerapan inovasi teknologi pertanian sesuai karakteristik wilayah, mulai dari varietas adaptif, pengelolaan air hemat, hingga pola budidaya spesifik lahan kering agar produktivitas pertanian tetap terjaga,” kata Fadjry menegaskan komitmen pendampingan kepada petani.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....