Sering Marah-Marah? Begini Cara Menjinakkannya

  • 14 Jul 2026 10:07 WIB
  •  Aceh Singkil

RRI.CO.ID, Aceh Singkil : Apakah Anda termasuk orang yang mudah tersulut emosi, sering memaki, atau bahkan merasa puas saat berhasil menjatuhkan orang lain dengan amarah? Jika ya, waspadalah. Dalam Islam, perilaku tersebut bisa jadi merupakan indikasi dominannya sifat Sabi’iyyah (karakter binatang buas) dalam diri seseorang.

Jika dibiarkan liar, sifat ini tidak hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga mengikis kesehatan mental dan spiritual. Lantas, bagaimana cara menjinakkannya?

Narasumber Dialog Kajian Islami RRI SP Aceh Singkil, Ustadzah Maulida Rizki MP, S.Sos., menjelaskan bahwa setiap manusia dibekali dengan berbagai potensi nafsu, salah satunya adalah nafsu Sabi’iyyah. Sifat ini merujuk pada karakter menyerupai binatang buas (seperti singa atau serigala) yang cenderung ingin menguasai, menerkam, menyerang, dan tidak mau kalah.

"Sifat Sabi’iyyah ini sejatinya adalah bentuk penyimpangan dari gaya amarah (ghadhab) yang tidak terkendali. Seseorang yang dikuasai sifat ini akan memandang kemarahan, tindakan menindas, dan mencaci-maki sebagai bentuk kekuatan atau kehebatan," kata Ustadzah Maulida, Jum’at 10 Juli 2026.

Menurutnya, ekspresi dari sifat ini sering kali muncul dalam bentuk ucapan yang kasar, gemar berdebat kusir, hingga kekerasan fisik demi memuaskan ego belaka.

Kabar baiknya, sifat ini bukanlah harga mati yang tidak bisa diubah. Ustadzah Maulida Rizki membagikan beberapa langkah konkret secara psikologis dan spiritual untuk meredam dan menjinakkan "singa" di dalam diri kita.

Pertama, latihan mengelola respons : ketika amarah mulai memuncak, jangan langsung merespons. "Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita untuk diam saat marah. Secara psikologis, jeda beberapa detik ini memberi waktu bagi otak berpikir logis (akal) untuk mengambil alih kendali dari otak emosional," jelas Ustadzah Maulida.

Kedua, mengubah posisi fisik dan berwudhu : mengikuti tuntunan sunnah, jika marah dalam posisi berdiri, segeralah duduk. Jika masih marah, segeralah berbaring atau mengambil air wudhu. Air yang sejuk secara psikologis memberikan efek menenangkan pada saraf yang tegang.

Ketiga, menumbuhkan sifat al-hilm (kesantunan dan kelapangan dada) : lawan dari Sabi’iyyah adalah Al-Hilm, yaitu kemampuan menahan diri dari amarah meskipun memiliki kekuatan untuk membalas. Sifat ini harus dilatih secara konsisten hingga menjadi kebiasaan baru.

Keempat, muhasabah dan menyadari dampak buruk : Ustadzah Maulida menekankan pentingnya merenungkan akibat dari amarah. "Setiap kali ingin meledak, tanyakan pada diri sendiri: Apakah ini akan menyelesaikan masalah, atau justru menambah masalah baru? Menyadari bahwa amarah menjauhkan kita dari rahmat Allah dan simpati manusia adalah rem terbaik."

Kemudian, Ustadzah Maulida Rizki, MP, S.Sos, mengingatkan bahwa tujuan menjinakkan sifat Sabi’iyyah bukanlah untuk menghilangkan rasa marah sama sekali, melainkan menempatkannya pada porsi yang benar.

"Marah itu manusiawi, tetapi jika tidak dididik dengan iman dan akal, ia akan berubah menjadi sifat Sabi’iyyah yang merusak. Jinakkan ia dengan zikir, kesabaran, dan kerendahan hati, sehingga energi tersebut bisa dialihkan untuk menegakkan kebenaran dengan cara yang santun, bukan dengan kebinatangan," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....