Makna Bulan Muharram dan Sejarah Kalender Hijriyah

  • 26 Jun 2026 18:10 WIB
  •  Aceh Singkil

RRI.CO.D, Aceh Singkil - Bulan Muharram menempati kedudukan istimewa dalam Islam. Sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriyah, Muharram termasuk empat bulan haram atau bulan suci yang dimuliakan Allah. Umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, berbuat baik, dan menahan diri dari perbuatan zalim di bulan ini.

Muharram juga dikenal sebagai bulan yang menyimpan dua peristiwa besar. Pertama, awal penanggalan Hijriyah yang menjadi identitas umat Islam. Kedua, peristiwa penyelamatan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Firaun pada tanggal 10 Muharram, yang kemudian disyukuri melalui puasa Asyura.

Terkait hal ini, Penyuluh Agama Kementerian Agama Aceh Singkil, Ustazah Raihan Maghfirah, M.Ag saat berdialog bersama RRI Singkil menjelaskan kalender Hijriyah adalah sistem penanggalan Islam yang didasarkan pada peredaran bulan atau Qamariyah. Sistem ini dicetuskan pada masa Kekhalifahan Umar bin Khattab.

"Beliau menetapkan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah tahun 622 M sebagai tahun pertama 1 H, dan bulan Muharram sebagai awal tahun," ujar Ustazah Raihan.

Ia memaparkan, sebelum Islam, masyarakat Arab sudah mengenal nama bulan dan siklus bulan, tapi belum punya angka tahun baku. Peristiwa besar seperti "Tahun Gajah" dipakai sebagai penanda waktu. Masalah muncul tahun ke-17 Hijriyah saat Gubernur Kufah Abu Musa Al-Asy'ari mengeluh ke Khalifah Umar bin Khattab karena administrasi negara dan surat-menyurat sulit tanpa penanggalan seragam.

Umar lalu bermusyawarah dengan sahabat terkemuka seperti Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Dari musyawarah itu diputuskan dua hal penting.

Pertama, titik awal tahun. Usulan kalender Romawi dan Persia ditolak. Sahabat sepakat memakai peristiwa hijrah karena menjadi titik balik perjuangan Islam, saat umat bisa beribadah aman dan membentuk komunitas berdaulat.

"Kedua, penentuan bulan pertama. Atas usulan Utsman bin Affan, Muharram disepakati jadi bulan pembuka tahun Hijriah. Alasannya, Muharram bulan suci yang jatuh setelah ibadah haji selesai, dan selaras dengan tradisi Arab yang sejak dulu menjadikan bulan ini sebagai awal tahun," imbuhnya.

Ustazah Raihan juga menjelaskan sejarah puasa Asyura tanggal 10 Muharram. Awalnya dilakukan Nabi Musa AS dan Bani Israil sebagai syukur karena diselamatkan Allah dari Firaun. Ketika Rasulullah tiba di Madinah, beliau melihat Yahudi berpuasa di hari itu. "Rasulullah bersabda umat Islam lebih berhak atas Nabi Musa, lalu beliau memerintahkan sahabat berpuasa," katanya.

Puasa Asyura melewati tiga fase. Periode Mekkah, Nabi sudah berpuasa tapi belum memerintah umat. Awal Madinah, puasa Asyura diperintahkan. Setelah turun perintah puasa Ramadhan di Surah Al-Baqarah ayat 183, hukum Asyura berubah dari wajib jadi sunah muakkad. "Agar tidak menyerupai Yahudi, Rasulullah menganjurkan puasa Tasu'a pada 9 Muharram atau sehari setelah Asyura," pungkasnya.

Ustazah Raihan mengajak umat menjadikan Muharram sebagai momentum hijrah diri. Dari sejarah kalender dan puasa Asyura, semangat musyawarah sahabat serta keberanian meninggalkan kebiasaan buruk diharapkan jadi teladan memasuki tahun baru Hijriah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....