Kisah Pilu Rusdiana: Rawat Suami yang Tertimpa Pohon Sekaligus Hidupi Tiga Anak

  • 17 Mei 2026 16:12 WIB
  •  Aceh Singkil

RRI.CO.ID, Subulussalam - Nasib pilu menimpa Dedy Sahputra (37), seorang petani di Desa Jontor, Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam. Pria yang dulunya merupakan tulang punggung utama keluarga tersebut, kini hanya bisa terbaring tak berdaya di atas kasur tipisnya setelah mengalami kecelakaan kerja fatal tertimpa pohon saat sedang mencari nafkah pada Januari 2026 lalu, Minggu 17 Mei 2026.

Hantaman keras pohon tersebut mematahkan tulang belakang Dedy secara serius hingga memaksanya naik ke meja operasi sebanyak empat kali di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh. Untuk menyambung raganya, tim dokter terpaksa menanam 18 buah pen besi di dalam tubuhnya, sebuah fakta medis yang menegaskan betapa parahnya trauma fisik yang ia derita.

Proses pemulihan Dedy diproyeksikan memakan waktu yang sangat lama tanpa ada kepastian kapan ia bisa kembali melangkah. Sejak bagian perut hingga ke ujung kakinya kini telah kehilangan daya sensorik dan motorik, membuat bapak tiga anak ini sepenuhnya lumpuh dan menggantungkan seluruh aktivitas hidupnya pada bantuan orang lain.

"Untuk normal kembali ada harapan, tapi memerlukan waktu yang lama. Karena dari perut saya ini sampai ke bawah tidak berdaya. Untuk ke kamar mandi atau duduk sendiri belum bisa, harus dibantu. Kalau sudah dipaksakan duduk, punggung terasa sangat panas," keluh Dedy.

Di tengah penderitaan fisik yang mendera Dedy, sang istri, Rusdiana Bancin, kini harus memikul beban hidup yang teramat berat. Ibu rumah tangga ini dipaksa keadaan untuk berganti peran menjadi kepala keluarga, mencari nafkah di tengah keterbatasan ekonomi, sekaligus merawat suaminya yang lumpuh serta mengasuh ketiga anak mereka yang masih kecil.

Ironisnya, di saat kondisi ekonomi keluarga ini berada di titik nadir, kehadiran jaring pengaman sosial dari Pemerintah Kota Subulussalam justru tak mereka rasakan. Upaya pasutri ini untuk mengakses bantuan sosial pendamping pasien rujukan keluarga miskin ke luar daerah terpaksa kandas di tengah jalan akibat rumitnya birokrasi dan persyaratan administrasi.

Aparatur daerah terkesan menutup mata terhadap kedaruratan yang dialami keluarga miskin ini. Merasa lelah dan putus asa karena terus dipingpong oleh lingkaran birokrasi yang memakan waktu dan biaya, Dedy dan Rusdiana akhirnya memilih berhenti mengurus berkas bantuan yang sebenarnya merupakan hak mereka sebagai warga negara.

Kekecewaan mendalam kembali mereka rasakan saat mencoba mengajukan proposal permohonan bantuan kursi roda ke Dinas Sosial Kota Subulussalam. Lembaga yang seharusnya menjadi benteng perlindungan sosial bagi warga disabilitas itu menolak permohonan mereka secara dingin dengan dalih ketiadaan anggaran daerah.

"Kami sudah ajukan proposal, tapi jawaban dari pihak Dinas Sosial Kota Subulussalam sangat mengecewakan. Mereka bilang tidak ada pengadaan kursi roda untuk tahun ini. Kursi roda yang saya pakai sekarang ini pun terpaksa dari pemberian sukarela warga yang kasihan melihat kondisi kami," ungkap Dedy.

Kini, di dalam rumah sederhananya yang sunyi, keluarga kecil ini hanya bisa merajut asa pada kepekaan hati para pemangku kebijakan di Kota Subulussalam, khususnya Baitul Mal. Mereka sangat mengharapkan adanya uluran tangan berupa bantuan modal usaha rumahan agar Rusdiana bisa menyambung hidup anak-anaknya sambil tetap menjaga suaminya yang terbaring kaku.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....