Mengenal Bapak Film Indonesia, Usmar Ismail
- 09 Sep 2024 20:25 WIB
- Aceh Singkil
KBRN, Aceh Singkil : Usmar ismail Sosok kelahiran Bukittinggi 20 Maret 1921 ini lebih dahulu mengenal sastra dan sandiwara sebelum mengenal film. Lahir sebagai bangsawan Minang, anak dari Datuk Tumenggung Ismail, seorang guru di Kota Padang, dan Siti Fatimah.
Seperti umumnya anak-anak Minang, ia sudah belajar sastra dan tertarik sandiwara sejak kecil, pertama kali mengenal film, ketika bersekolah di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Padang. Lulus MULO, dia melanjutkan ke Algemene Middelbare School (AMS), sekolah yang setingkat SLTA di Yogyakarta, di sini dia makin memperdalam pengetahuannya mengenai sastra dan seni pertunjukan.
Di Yogyakarta, Usmar harus menjalani program wajib militer dan menjadi tentara dengan pangkat mayor, dia juga berkarir di dunia jurnalistik dengan memimpin Harian Patriot dan Arena di kota ini. Tahun 1946 – 1947, dia sempat pula menjabat Ketua Persatuan Wartawan Indonesia menggantikan Soemanang yang mengundurkan diri.
Sekembalinya ke Jakarta, Usmar menjadi jurnalis di Kantor Berita Antara, dan karena tulisan-tulisannya, tahun 1948 dia ditangkap oleh polisi NICA dan dijebloskan ke penjara. Tahun berikutnya, setelah bebas, dia mulai terjun ke dunia perfilman, dan pada tahun 1950 bersama Suryo Sumanto, mendirikan Perfini, dan juga memulai shooting film perdana Perfini; The Long March atau Darah dan Doa, film yang banyak mendapat pujian juga cacian dari kritikus film dalam dan luar negeri waktu itu.
Film ini dibuat dengan segala kekurangan, baik peralatan maupun pengalaman, namun film ini bisa dikatakan sukses. Film ini juga mendapat kehormatan untuk diputar di kediaman Presiden Soekarno. Meskipun sukses, tetap saja menuai kontroversi, film ini diboikot oleh militer, karena ceritanya dianggap menyudutkan atau terlalu menampilkan sisi gelap seorang tentara.
Usmar Ismail juga pernah mengenyam pendidikan sinematografi di University of California Los Angeles (UCLA) Amerika Serikat, dan lulus dengan gelas BA. Sepulang dari sana karya-karyanya mulai dipengaruhi oleh gaya Holywood, sehingga banyak menuai kritik dan pertentangan dari pemerintah dan masyarakat, di tengah banyaknya kampanye anti barat waktu itu.
Sebagai sutradara, dia sangat produktif, hampir setiap tahun dia melahirkan film, bahkan lebih dari satu film. Beberapa karyanya yang melegenda antara lain The Long March (1950), Enam Djam di Yogya (1951), Kafedo (1953), Krisis (1953), Lewat Djam Malam (1954), Tamu Agung (1955), dan Tiga Dara (1956).
Pada tahun 1970, Usmar Ismail yang menjabat sebagai direktur perfini, mengadakan kerja sama dengan perusahaan Italia untuk memproduksi film Adventures in Bali. Namun, proses dan pasca-produksi film ini bermasalah. Rosihan Anwar sahabat Usmar Ismail mengatakan, dalam perjanjian awalnya, nama Usmar sebagai sutradara akan dicantumkan dalam versi film ini yang diedarkan di Eropa. Namun, ketika Usmar berkunjung ke Roma melihat penyelesaian film itu, namanya sama sekali tidak disebut. Menurut Rosihan, Usmar ditipu oleh produser Italia Filmnya tetap dirilis dengan judul Bali pada 1971, namun kurang laku di pasaran.
Di tengah kesulitan, Usmar tetap berjuang mempertahankan Perfini dan menggaji karyawannya. Namun, tak lama kemudian Usmar jatuh sakit di rumahnya akibat pendarahan otak. Usmar Ismail meninggal pada tanggal 2 Januari 1971 di Jakarta. Ia dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta.
Sumber : wikipedia , kominfo.go.id
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....