Sejarah dan Hikmah Idul Adha
- 18 Jun 2024 13:42 WIB
- Aceh Singkil
KBRN, Aceh Singkil : Idul Adha merupakan gabungan dari kata idul dan adha. Id diambil dari bahasa Arab aada (yauudu) yang artinya kembali. Sedangkan, Adha diambil dari kata adhat yang berasal dari kata udhiyah, artinya kurban. Seperti dilansir Kemenag.go.id, Idul Adha bisa diartikan kembali berkurban atau hari raya penyembelihan hewan kurban.
Idul adha adalah hari raya dalam agama Islam yang memperingati peristiwa kurban, yaitu ketika Nabi Ibrahim bersedia mengorbankan putranya Isma'il sebagai wujud kepatuhan terhadap Allah. Sebelum Ibrahim mengorbankan putranya, Allah menggantikan Ismail dengan domba. Untuk memperingati kejadian ini, hewan ternak disembelih sebagai kurban setiap tahun.
Bagi umat muslim, keutamaan perayaan hari Idul Adha sama halnya dengan Idul Fitri. Hari Idul Adha biasanya ditetapkan beberapa bulan setelah perayaan Hari Idul fitri, yang mana memiliki sebutan sebagai Hari Raya Kurban. Tepatnya pada tanggal 10 Dzulhijjah, setelah melaksanakan salat ied, umat muslim akan berbondong-bondong menonton atau bahkan mengikuti prosesi penyembelihan hewan kurban di lingkungan mereka.
Hari Idul Adha identik dengan penyembelihan hewan kurban seperti sapi, kambing, hingga domba. Penyembelihan hewan kurban tersebut tentu saja memiliki tata cara tersendiri sehingga tidak sembarang orang dapat melakukannya. Secara tidak langsung, peristiwa besar yang dialami oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tersebut dimaknai sebagai pesan simbolik agama, yang mengandung tiga hal pembelajaran atau hikmah, menurut gramedia.com
1. Ketaqwaan
Pengertian “taqwa” itu berkaitan dengan ketaatan seorang Hamba kepada Sang Pencipta dalam upaya menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dalam hal ini, Nabi Ibrahim memiliki tingkat rasa ketaqwaan yang tinggi, sebab dirinya tetap melaksanakan perintah-Nya, sekalipun itu menyembelih anaknya sendiri. Atas ketaqwaan Nabi Ibrahim, kemudian Allah SWT menggantikan anaknya untuk disembelih dengan seekor domba.
2. Aspek Sosial (Hubungan Antar Manusia)
Dalam hal ini, dapat dilihat melalui proses pembagian daging kurban kepada para fakir miskin. Agama Islam mengajarkan kita untuk tetap mengedepankan rasa solidaritas dengan sesama manusia, ketika kita memberikan hewan kurban untuk disembelih, daging hewan tersebut nantinya akan dibagikan kepada para fakir miskin sebagai bentuk kepedulian sosial seorang muslim kepada sesamanya. Hal ini juga memperlihatkan bahwa ciri khas dari agama Islam adalah mengajarkan untuk saling tolong-menolong.
3. Peningkatan Kualitas Diri
Dalam hal ini berkaitan dengan sikap empati, kesadaran diri, hingga pengendalian diri sebagai akhlak terpuji seorang Muslim.
(Sumber:gramedia.com)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....