Trauma Menghadang: Ketakutan Warga Pasca Banjir Aceh Singkil

  • 12 Des 2025 11:43 WIB
  •  Aceh Singkil

KBRN, Aceh Singkil : Bencana banjir yang baru-baru ini melanda Aceh Singkil memang telah surut, menyisakan lumpur dan kerusakan fisik yang memerlukan waktu untuk diperbaiki. Namun, di balik pemandangan pembersihan dan pembangunan kembali, terdapat dampak yang jauh lebih mendalam dan sulit disembuhkan: luka psikologis dan trauma yang kini menghantui ribuan warga.

Bagi mereka yang rumahnya terendam, suara gemuruh hujan deras kini bukan lagi pertanda alam yang biasa, melainkan pemicu kecemasan dan ketakutan yang mendalam. Meskipun kondisi lingkungan berangsur pulih, dan upaya pembersihan terus dilakukan, kehidupan warga di Aceh Singkil seolah terhenti setiap kali langit mulai gelap dan intensitas hujan meningkat.

Warga bergerak cepat, bukan untuk beraktivitas normal, melainkan untuk bersiap siaga. Mereka bergegas memeriksa saluran air, menaikkan barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi, dan bahkan banyak yang memilih untuk berjaga sepanjang malam, diliputi kekhawatiran banjir akan terulang kembali.

Salah satu warga yang merasakan betul dampak psikologis ini adalah Safitri, seorang penduduk di Kecamatan Singkil. Trauma akibat banjir bulan lalu masih sangat membayangi kehidupan sehari-hari Safitri, seolah pengalaman pahit itu dapat terulang kapan saja.

"Ini cuaca mulai tidak menentu lagi, setiap dengar hujan deras, hati ini langsung deg-degan. Rasanya seperti air sudah masuk lagi ke ruang tamu," tutur Safitri dengan mata berkaca-kaca, Jumat(12/12/2025).

Kisah Safitri hanyalah satu dari ribuan warga yang kini berjuang melawan ketakutan yang dipicu oleh elemen alam yang dulu mereka anggap wajar.

Kondisi di Aceh Singkil saat ini menunjukkan bahwa upaya pemulihan pasca-bencana tidak bisa lagi hanya berfokus pada perbaikan infrastruktur fisik semata. Pemulihan sejati di Aceh Singkil kini bergantung pada dukungan psikososial agar trauma dan ketakutan ini dapat disembuhkan.

Rekomendasi Berita