Begini Etika Bermedia Sosial dalam Perspektif Islam

  • 13 Sep 2026 23:50 WIB
  •  Aceh Singkil

RRI.CO.ID, Aceh Singkil – Di era digitalisasi saat ini masyarakat diminta untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Karena jempol kita yang digunakan untuk mengetik, mengomentari, dan membagikan konten akan dimintai pertanggungjawaban di hari akhir nanti.

Penyuluh Agama Islam dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Singkohor, Ustazah Raihan Maghfirah, M. Ag, dalam dialog Kajian Islami bersama RRI Singkil menekankan, pentingnya menjaga lisan di dunia maya. Perbuatan mengghibah ataupun fitnah adalah perbuatan yang dibenci Allah dan dapat mencemarkan nama baik orang lain.

“Ghibah adalah menyampaikan hal yang benar namun dapat menyakiti orang lain, perbuatan itu tetap termasuk dosa dan tergolong gosip. Sementara fitnah, yaitu menyebarkan berita yang salah, hukumnya jauh lebih berat karena dapat merusak nama baik seseorang, sehingga keduanya di larang Allah,” sebutnya, jum’at, 11 September 2026.

Ia juga mengingatkan agar umat Islam tidak terbiasa menyindir orang lain di media sosial meskipun tidak menyebut nama secara langsung. Begitu pula dengan kebiasaan menghina dengan berlindung di balik dalih "bercanda".

“Sindiran halus sekalipun tetap dapat melukai perasaan. Sedangkan bercanda tidak boleh sampai menjatuhkan martabat orang lain,” tambahnya.

Kebebasan berpendapat di ruang digital juga harus memiliki batas, Ustazah Raihan menegaskan, seseorang tidak bisa berkomentar kasar dengan dalih kebebasan jika isi komentar itu menyakiti orang lain.

“Islam membedakan antara kritik dan penghinaan, kritik disampaikan dengan nada sopan dan bertujuan membangun. Sedangkan menghina dilakukan dengan kata-kata kasar, menghardik, dan berniat merendahkan,” sebutnya.

Di tengah maraknya informasi atau berita viral, ia mengajak masyarakat untuk tidak langsung menekan tombol klik dan share. Ia mengingatkan agar tidak mudah menilai sesuatu yang sedang viral sebagai kebenaran, karena bisa saja berita tersebut adalah hoax. Untuk itu ia menganjurkan agar setiap orang bertabayun terlebih dahulu sesaat setelah menerima sebuah berita baru.

“Cek kebenaran sumbernya sebelum ikut menyebarkannya. Ttahan dan timbang, sebelum memposting, membagikan atau berkomentar, agar tidak menyesal di kemudian hari,” tegasnya.

Ustazah Raihan berharap masyarakat, khususnya generasi muda di Aceh Singkil, dapat menjadikan media sosial sebagai sarana untuk menyebarkan kebaikan, bukan untuk saling menghujat dan menyebar informasi yang tidak benar.

"Minta maaf di dunia maya itu lebih susah daripada di dunia nyata. Kalau di dunia nyata kita bisa langsung berhadapan, tapi di dunia maya jejak digitalnya akan terus ada," tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....