Dongkrak Pendapatan Petani, Pengolahan Lahan Timun di Simpang Kiri Dipacu

  • 22 Jun 2026 17:48 WIB
  •  Aceh Singkil

RRI.CO.ID, Subulussalam - Upaya penguatan sektor ketahanan pangan di tingkat desa terus dioptimalkan oleh komunitas petani di Kota Subulussalam. Saat ini, para petani di Desa Subulussalam Barat, Kecamatan Simpang Kiri, tengah memfokuskan aktivitas pertanian mereka pada percepatan fase pengolahan lahan untuk komoditas hortikultura jenis mentimun.

Langkah tanam ulang ini diambil sebagai strategi jangka pendek untuk menjaga produktivitas lahan agar tetap menghasilkan nilai ekonomi di luar musim tanam pokok. Fokus utama pengerjaan kini bertumpu pada sterilisasi media tanam guna menekan potensi kegagalan panen akibat serangan hama maupun faktor cuaca yang tidak menentu.

Guna mempercepat proses penyiapan media tanam tersebut, pengolahan lahan dilakukan dengan mengintegrasikan tenaga swadaya lokal. Personel Bintara Pembina Desa (Babinsa) dari Koramil 01/Simpang Kiri Kodim 0118/Subulussalam dikerahkan ke lapangan untuk melakukan pendampingan teknis pratanam.

Di hamparan pertanian, petugas teritorial bersama petani terpantau melakukan pembersihan gulma, perbaikan sistem drainase pada bedengan, hingga pemasangan ajir atau kayu penyangga tanaman. Teknik persiapan yang presisi ini sengaja diterapkan agar pertumbuhan akar bibit timun nantinya dapat berkembang secara maksimal.

Babinsa Koramil 01/Simpang Kiri, Serda Duwi, menjelaskan bahwa keterlibatan jajaran militer dalam sektor agraria ini merupakan bagian dari fungsi pembinaan teritorial di wilayah hilir. Fokusnya adalah memberikan stimulan bagi petani agar lebih mandiri dalam mengelola potensi lahan produktif yang dimiliki desa.

“Kami ingin selalu hadir di tengah masyarakat dan membantu setiap kegiatan yang dapat meningkatkan kesejahteraan warga. Dengan pengolahan lahan yang baik, kami berharap hasil panen timun nantinya lebih maksimal dan mampu meningkatkan pendapatan petani,” ujar Serda Duwi di lokasi pertanian, Senin 22 Juni 2026.

Menurut Serda Duwi, fase pratanam atau pengolahan tanah memegang persentase kelulusan yang cukup tinggi dalam menentukan kualitas buah timun saat masa panen tiba. Oleh sebab itu, ketelitian dalam pencampuran pupuk dasar dan penataan bedengan harus dikawal ketat sejak awal.

Sinergi di lapangan ini mendapat respon positif dari kelompok tani lokal yang menilai kehadiran pendampingan fisik membuat ritme kerja di sawah menjadi lebih efisien. Target berikutnya setelah penataan lahan ini rampung adalah melakukan penyemaian benih serentak yang diproyeksikan mampu mendongkrak suplai pasar sayur di perkotaan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....