GeNose, Buatan UGM Mampu Deteksi Covid dalam Waktu 10 Menit

KBRN, Yogyakarta : Sebuah terobosan baru karya anak bangsa berupa alat pendeteksi virus Covid-19, kini muncul dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, dengan nama GeNose.

Alat ini merupakan salah satu produk inovasi UGM, yang dapat digunakan untuk mendeteksi Covid-19 secara cepat dan akurat.

GeNose adalah hidung elektronik yang bekerja dengan sistem penginderaan atau sensor untuk mengenali pola senyawa. GeNose dirancang untuk mengenali pola Volatile Organic Compound yang terbentuk dari infeksi Covid-19 dan terbawa dalam nafas manusia.

GeNose memiliki sejumlah keunggulan sebagai alat deteksi cepat Covid-19, yaitu reliabilitas tinggi karena menggunakan sensor yang dapat dipakai hingga puluhan ribu pasien dalam jangka lama, mampu memberikan hasil dalam waktu yang relatif cepat, non-invasif, serta memerlukan biaya pengujian yang murah menggunakan masker non-rebreathing dan hepa filter sekali pakai.

Alat pintar ini telah diperkenalkan oleh para pimpinan serta peneliti UGM ke Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, dalam sebuah audiensi yang berlangsung pada Senin (12/10).

Pada kersempatan itu, HB X langsung mencoba alat diagnosis cepat infeksi Sars-Cov2 buatan UGM terserbut melalui hembusan nafas ke dalam masker non-rebreathing yang akan disambungkan dengan perangkat GeNose.  

“Dalam pertemuan ini kami menyampaikan progress dari inovasi GeNose yang sekarang dalam proses untuk uji klinis, uji diagnosis, dan menunggu izin edar dari Kementerian Kesehatan,” kata Rektor UGM, Ir. Panut Mulyono, dalam pesan elektronik yang dikirim Humas UGM kepada media, Rabu (14/10/2020).

Di sisi lain, anggota tim peneliti GeNose, yakni dr. Dian Kesumapramudya menerangkan bahwa GeNose dapat digunakan sebagai salah satu metode skrining bersama rapid test serta PCR.

Meski begitu, sejumlah tahapan masih harus dilalui sebelum alat ini dapat mulai diproduksi secara massal. Proses uji diagnosis rencananya akan mulai dilakukan dalam minggu ini, dan diharapkan proses produksi dapat dimulai pada pertengahan November mendatang.

“Harapannya November sudah mulai bisa produksi massal, setelah alat ini dipresentasikan ke Kementerian Kesehatan. Ada prosedur-prosedur yang harus dilalui, dan ini butuh waktu,” terangnya.

Untuk uji diagnosis sendiri, Dian menerangkan bahwa diperlukan sebanyak 1.600 subjek dengan 3.200 sampel. Sampel  ini akan diambil dari sembilan rumah sakit, termasuk di antaranya RSUP dr. Sardjito, Rumah Sakit Akademik UGM, dan RSPAU Hardjolukito.

Sebelum dilakukan uji diagnosis, alat ini sebelumnya telah melalui uji profiling dengan menggunakan 600 sampel data valid, dan menunjukkan tingkat akurasi tinggi, yaitu 97 persen.

Dian menerangkan, karena alat ini menggunakan sistem artificial intelligence, semakin banyak tes yang dilakukan maka tingkat akurasi juga akan semakin meningkat. Dan melalui uji diagnosis yang akan dilakukan selama beberapa minggu ke depan, nantinya akan diperoleh hasil yang menunjukkan apakah produk ini layak untuk digunakan sebagai alat kesehatan yang akurat.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00