Pakar UGM Nilai Tak Mudah Wujudkan Metaverse di Indonesia

KBRN, Yogyakarta: Peneliti pada lembaga Center for Digital Society (CfDS) di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol)  Universitas Gadjah Mada (UGM), Dewa Ayu Diah Angendari mengatakan, Metaverse merupakan salah satu buzzwords terbesar di dunia teknologi saat ini. 

Semakin seringnya Metaverse disinggung sejumlah tokoh penting, rupanya cukup membuat Metaverse menjadi salah satu topik yang hangat diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia belakangan ini. 

Mulai dari pidato pembukaan Presiden Jokowi yang menyebut, dengan Metaverse aktivitas mengaji dan berdakwah akan dapat dilakukan di dunia virtual. 

Kemudian ada Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Johnny G Plate yang menyinggung potensi berkembangnya Metaverse karena keunggulan nilai-nilai luhur bangsa dan kearifan lokal, hingga Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang sedang serius membangun ibu kota negara virtual Indonesia melalui Metaverse untuk mengakomodasi kebutuhan di tengah perkembangan zaman. 

Sebenarnya, apa itu Metaverse dan seperti apa bentuknya yang dapat kita jumpai sekarang? Dewa Ayu Diah Angendari memberikan paparannya, Kamis (20/1/2022) dalam sebuah diskusi CfDS. 

"Mudahnya, Metaverse adalah dunia virtual dapat dimasuki, alih-alih hanya dilihat dari layar, dan mencakup beragam infrastruktur dan aspek digital yang memungkinkan orang-orang untuk melakukan aktivitas hariannya dalam bentuk avatar," ungkap Dewa Ayu. 

Banyak kendala

Adapun beberapa game online yang menggunakan konsep cara kerja Metaverse adalah seperti Roblox, SecondLife, Minecraft yang mana dimainkan dengan cara membangun kota sendiri dan terdapat avatar di dalamnya, bentuk manusia secara digital. 

Namun, menurut Diah, masih perlu waktu lama mewujudkan Metaverse di Indonesia. Terlebih masih terdapat beberapa isu yang berpotensi muncul ketika Metaverse benar-benar digunakan. 

"Pertama adalah privasi data yang masih menjadi permasalahan yang sering terjadi di Indonesia ditandai dengan seringnya terjadi kebocoran data pribadi masyarakat," katanya. 

Kedua adalah infrastruktur. Dibutuhkan infrastruktur yang lebih baik, utamanya di jaringan internet 5G sedangkan pengadopsian 5G di Indonesia masih terbatas. 

"Isu ketiga adalah mahalnya harga VR dan AR, alat yang dibutuhkan untuk membuat fundamental dari Metaverse," tuturnya. 

Visi pembangunan Metaverse dan hadirnya beberapa isu potensial ini menurut Diah dapat dijadikan alarm bagi Indonesia. 

“Visi membangun dunia digital paralel seperti metaverse dapat menjadi alarm bagi Indonesia atas berbagai pekerjaan rumah terkait transformasi digital, seperti aspek literasi digital, perlindungan data, peningkatan kapasitas dan pengetahuan di bidang teknologi digital, hingga digital divide," paparnya. (ros/yyw) 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar