Banyak Profesi Hilang di Masa Depan, Sarjana Dituntut Lebih Kreatif

KBRN, Yogyakarta: Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prof Pratikno mendorong sarjana lulusan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta mampu menangkap peluang pekerjaan baru di era disrupsi. 

"Disrupsi ini memang membuat banyak pekerjaan hilang tetapi juga banyak pekerjaan baru yang akan muncul," kata Pratikno saat menjadi keynote speaker, Sabtu (18/12/2021) siang, secara virtual dalam acara Wisuda Program Sarjana UNU Yogyakarta. 

Menurut mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) itu, disrupsi merupakan sebuah keniscayaan yang muncul akibat pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi di era revolusi industri 4.0 serta pandemi Covid-19. 

Pratikno lantas mengutip data Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) yang memprediksi sebanyak 85 juta pekerjaan bakal hilang seiring kehadiran teknologi robot dan otomasi, hingga teknologi baru "metaverse" (dunia komunitas virtual tanpa akhir yang saling berhubungan, red). 

Menteri kelahiran Bojonegoro itu mengambil contoh tukang pos yang kini semakin menghilang karena terdisrupsi setelah kemunculan surat elektronik (email) dan juga banyaknya aplikasi telekomunikasi antarmanusia. 

"Kasir di bank semakin tidak ada karena semakin lama semakin melalui e-payment, apalagi bank-bank konvensional juga menjadi bank-bank digital," ujar dia. 

Profesi baru

Kendati demikian, ujar Pratikno, diperkirakan bakal muncul 37 juta jenis pekerjaan baru di Indonesia seiring dengan kehadiran teknologi komputasi awan (cloud), big data, hingga e-commerce

"Ini adalah kesempatan peluang baru bagi saudara-saudara dan kesempatan itu hanya bisa nikmati oleh generasi muda, generasi yang tumbuh digital, generasi yang digital native," kata dia. 

Untuk memperoleh peluang di era disrupsi, kata dia, para lulusan perguruan tinggi perlu membuka diri mempelajari ilmu serta wawasan baru, tanpa dibatasi disiplin ilmu semasa kuliah. 

Hal itu, menurut Pratikno, disebabkan peluang pekerjaan di masa mendatang hampir seluruhnya berbasis hybrid atau gabungan dari berbagai keahlian. 

"Di masa yang akan datang itu hampir sepenuhnya adalah hybrid job, yang butuh hybrid skill, butuh hybrid knowledge, jadi penting untuk anda belajar sesuatu yang baru yang itu akan membuka wawasan saudara," kata dia. 

Beberapa contoh kecil peluang baru yang muncul antara lain menjadi kreator konten, penulis naskah, animator hingga videografer. 

"Bahkan menjadi pendakwah, menjadi guru agama, menjadi kiai muda yang sangat berpengaruh yang justru memanfaatkan dunia digital, yang santrinya bukan hanya di daerah, tetapi di seluruh Indonesia, bahkan dunia," tutur Mensesneg. 

Sebanyak 74 mahasiswa diwisuda pada acara wisuda perdana UNU Yogyakarta tersebut. Dari 74 peserta wisuda, sembilan orang berpredikat terbaik sesuai prodi masing-masing dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi 3.90 yang diraih oleh Ruslan Abdul Parid dari Program Studi Studi Islam Interdisipliner. (ros) 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar