Tradisi Rasulan di Gunungkidul Tetap Digelar Meski Sepi Karena Pandemi

Warga menggelar kenduri doa bersama

KBRN, Gunungkidul: Masyarakat Kalurahan Kepek, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta tetap menjaga tradisi budaya Rasulan meski dilakukan dengan prosesi yang lebih sederhana akibat adanya pandemi Covid-19. Tradisi Rasulan memang tidak bisa bagi masyarakat.

Perayaan Rasulan biasanya digelar dengan berbagai kemeriahan dan hiburan rakyat. Namun kali ini digelar sederhana dengan doa bersama sejumlah tokoh masyarakat dengan membawa berbagai makanan di balai padukuhan masing-masing.

Tak banyak pula sanak yang berkunjung ke rumah untuk mengunjungi rasulan. Tradisi ini menjadi sarana silaturohmi. Masyarakat biasa menyediakan berbagai jenis makanan untuk teman atau saudara yang datang.

Ketua Rukun Warga (RW) Padukuhan Bansari, Kapanewon Kepek, Supriyono mengatakan, Rasulan merupakan ungkapan rasa syukur warga setelah panen beberapa pekan sebelumnya.Tradisi rasulan biasanya melewati prosesi panjang, beberapa hari sebelum pelaksanaan sudah dilakukan ritual.

"Ditengah Pandemi Covid -19 puncak kenduri di balai padukuhan masing-masing. Aneka makanan seperti nasi, lauk, sayuran, ayam ingkung dikumpulan diberi doa dan berkumpul dengan warga," katanya kepada rri.co.id, Sabtu (3/9/2020).

Seluruh makanan yang ditempatkan di anyaman daun kelapa yang dinamakan "sarang" satu warga biasanya memperoleh satu sarang yang berisi makanan komplit lengkap dengan lauk pauk. 

Perayaan rasulan tahun yang berbeda dengan tahun sebelumnya tidak ada lagi hiburan, tidak ada gelak tawa keluarga atau teman yang datang ke rumah yang untuk rasulan. Kalapun ada peraturan hanya sedikit karena mesti mempertikan protokol kesehatan.

Biasanya Rasulan ini sudah seperti hajatan, seluruh warga masak banyak. Namun tahun ini masaknya lebih sedikit, karena untuk hantaran ke saudara, dan kenduri saja, "katanya.

Dari pengamatan, upacara kenduri dilakukan sederhana mulai pukul 07.00 WIB tak banyak warga yang hadir satu RT hanya mewakilan beberapa orang. Mereka mengikuti secara khusyu kenduri yang dipimpin oleh salah satu pemuka agama.

Secara umum, kenduri menggunakan doa agama Islam, namun bagi yang beragama lain pun tidak boleh berdoa sesuai dengan yang dianutnya. Seluruh makanan yang dibawa warga ditempatkan ditengah balai padukuhan dan warga berjajar duduk melingkari makanan tersebut.

Kepala Kundha Kabudayan Gunungkidul, Agus Kamtono mengatakan, tradisi rasulan biasanya dilakukan sejak bulan April hingga bulan Juli.Namun, karena saat ini masa pandemi, tidak melibatkan massa dalam jumlah banyak. 

Mereka hanya melakukan tradisi secara mandiri dengan hanya melakukan kenduri sederhana.Tradisi ini masih banyak dilakukan oleh masyarakat meski pandemi Covid-19.

"Hanya mengimbau kepada masyarakat melaksanakan rasulan monggo memperhatikan protokol kesehatan," ucap Agus.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00