Peran Generasi Muda Keturunan Tionghoa dalam Kemerdekaan RI

KBRN, Yogyakarta : Perjuangan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dari tangan penjajah, tidak luput dari peran banyak tokoh, tidak sebatas pribumi bangsa Indonesia. Tetapi juga tokoh-tokoh bangsa yang lain termasuk dari para generasi mudanya.

Kemerdekaan RI yang diproklamasikan oleh Bung Karno di Pegangsan Timur Jakarta pada 17 Agustus 1945 misalnya, ternyata tidak lepas pula dari peran keturunan Tionghoa di Indonesia.

Tidak banyak disebut namanya, keturunan Tionghoa di Indonesia telah berjuang beberapa hari sebelum Proklamasi dikumandangkan. Dua hari tersebut, rumah petani keturunan bernama Djiaw Kie Siong di Dusun Bojong, Rengasdengklok, Kabupaten Karawang menjadi saksi bisu ditulisnya naskah Proklamasi yang bersejarah.

Sebelumnya, John Lie atau Daniel Dharma seorang perwira militer Angkatan Laut, dijuluki sebagai Hantu Selat Malaka karena sukses menyelundupkan senjata untuk para pejuang bangsa Indonesia.

Tokoh keturunan lainnya seperti Yap Tjwan Bing adalah anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan (PPKI) dan menghadiri pengesahan UUD 1945 serta pemilihan Presiden dan Wakil Presiden setelah proklamasi.

Itu hanya segelintir nama para pejuang keturunan Tionghoa menuju proses panjang Kemerdekaan RI.

Akibat kebijakan pemerintah kolonial Belanda memisahkan pemukiman generasi muda keturunan Tionghoa berdasarkan etnis dan kelas ekonomi.

“Bahkan masa Orde Baru, ada larangan untuk kegiatan adat-istiadat Tionghoa. Namun Presiden Abdurrachman ‘Gus Dur’ Wahid mencabut aturan diskriminatif Orde Baru sehingga masyarakat Tionghoa bebas menjalankan kepercayaan dan budayanya,” tutur Maria Ignatia Juvita-Aktivis Muda Tionghoa Lintas Iman, Selasa (16/8/2022).

Ia juga mengaku sempat merasakan bullying secara verbal semasa Sekolah Dasar hingga menjelang remaja.

Bahkan ia juga mengaku bahwa rekannya sesama aktivis Gusdurian mengungkap kebenciannya terhadap keturunan Tionghoa tanpa mengenal satupun orang Tionghoa. Rupanya stereotip ini sudah mengakar dalam keluarganya tanpa tahu apa yang harus dibenci. Baru saat bertemu dengan Jojo, panggilan akrab Juvita, sahabatnya ini merasakan keturunan Tionghoa sama seperti orang Indonesia pada umumnya.

Maria Ignatia Juvita juga menguraikan, fenomena Asimilasi Nama versus Cinta Tanah Air Indonesia Nama merupakan doa dari orang tua. Siapapun menyetujui hal ini. Termasuk keturunan Tionghoa yang memiliki nama marga. Apakah etnis Tionghoa yang sudah melepas nama marganya berarti cinta tanah air? Diungkap pengagum Presiden keempat Republik Indonesia ini bahwa tidak ada hubungannya.

Selain nama merupakan doa, masih memiliki nama marga merupakan bentuk keragaman yang kaya di Indonesia seperti halnya marga Batak, marga Sunda, marga Jawa, dan lainnya.

Politik asimilasi atau ganti nama dengan nama Indonesia sempat menimbulkan keresahan kala itu hingga ada yang memasang tulisan Milik Pribumi.

“Gencarnya politik asimilasi memunculkan hal yang menggelikan seperti ada yang berganti nama menjadi Kasnawi Kartanegara singkatan lucu dari Bekas Cina Betawi Tukar Nama Dipaksa Negara. Tentu bangsa yang besar tidak perlu memaksa untuk menghilangkan kebudayaan, justru Bangsa Indonesia semakin besar dan semakin kaya,” lanjutnya.

“Ungkapan cinta tanah air diwujudkan melalui kontribusi nyata dan kerja yang aktual.

Kesadaran kalau kita lahir di Indonesia serta dengan memperoleh literasi yang tepat dan tidak menyesatkan,” lanjut Juvita.

Maria Ignatia Juvita menambahkan, menanamkan jiwa nasionalisme berkait mimpi dan cita-cita bersama. Negara dan Bangsa Indonesia sudah ada, bagaimana realita ke depan ditentukan oleh generasi muda muda saat ini.

“Tentu butuh ruang untuk bersatu dan bergerak bersama. Ruang untuk menyatukan cita-cita bersama dan mengantarkan bangsa Indonesia lebih baik lagi, dan dimulai dari sekarang,” tegasnya. (dinafeb/yyw).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar