DPRD DIY Minta Pemda Percepat Pergub Petugas Operasional Irigasi

KBRN,Yogyakarta : Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DIY, Nuryadi menilai gaji petugas Operasional dan Pemeliharaan (OP) jaringan irigasi yang menjadi kewenangan Pemda DIY paling rendah se-Indonesia.

Setiap orang rata-rata menerima Rp 70 ribu per hari. Padahal kerja mereka berat sebab berkaitan dengan pengawasan air dan kebencanaan yang ditimbulkan oleh air.

"Insentif atau gaji petugas OP di DIY paling rendah se-Indonesia. Ini tidak sebanding dengan beban kerja mereka," kata Nuryadi, Ketua DPRD DIY, saat menemui perwakilan dari organisasi petugas operasional dan pemeliharaan dari Bantul, Sleman, dan Gunungkidul di Gedung DPRD, Kamis (30/9/2021).

Nuryadi menegaskan pihaknya akan mendorong alokasi Dana Keistimewaan (Danais) untuk meningkatkan pendapatan mereka.

Menurutnya, petugas irigasi dapat menjadi bagian dari kebudayaan. Hanya saja perlu payung hukum misalnya pergub untuk mengaturnya. Wacana rapergub ini sudah lama muncul, sehingga harus segera direalisasikan.

"Mereka akan menjadi bagian dari kebudayaan dengan sebutan pamong banyu, pangulu banyu, mantri banyu, abdi bendung, abdi yeyasan, gawe jorongan," jelasnya.

Kepala Bidang Sumber Daya Air dan Drainase PUP ESDM DIY, R.Tito Asung Kumoro Wicaksono mengatakan ad 105 petugas OP dibawah kewenangan DIY. Pendapatan para petugas OP memang menurun. Sebelumnya mereka mendapat gaji tetap sekitar 1,8 juta.

Namun, kemudian ada perubahan aturan, mengacu analisis beban kerja Biro Organisasi, sehingga dibayar harian sebesar 70 ribu rupiah per hari, selama 20 hari per bulannya.

"Satu hari dapat Rp70.000 per petugas OP sesuai DPA kita ada 20 hari, jumlahnya ada 105 orang. Kenapa tidak 30 hari? Dari pencermatan tim biro organisasi Analisis beban kerja mereka tidak sampai 37,5 jam per pekan maka di diberikan satuan uang harian, kalau bekerja 24 jam tidak, tapi siaga 24 jam, setiap hari melaksanakan tugas tidak hanya buka tutup pintu air tetapi juga mengawal air dari pengambilan intake sampai ke saluran pembawa primer maupun sekunder sampai ke sadam sekunder, mereka mengawal," terangnya.

Tito mengaku terus memperjuangkan agar ada peningkatan pendapatan para petugas Operasional dan Pemeliharaan (OP) jaringan irigasi , salah satunya menggunakan dana keistimewaan DIY.

"Tentu mereka dibayar dengan kotor harian, ada suatu kondisi agak syok yang dulunya mungkin per bulan 1,8 juta, sekarang turun 400rb per bulan cukup signifikan karena mereka mungkin, sudah nyicil motor, untuk kebutuhan keluarga akhirnya harus menerima sesuai aturan dari pemerintah. Kita perjuangkan sudah ada masukan BKD bisa ke arah danais untuk bisa diakses untuk ada pergub tersendiri, seperti jaga warga, sar istimewa," katanya.

Tito menjelaskan saat ini kapasitas para petugas OP sebagai honorer dan digaji APBD. Kinerja mereka paling lama sudah 10 tahun bahkan usia paling tua 56 tahun. 

"Saya kira nanti bisa disesuaikan seperti yang diperoleh jaga warga dan SAR Istimewa. Status mereka jelas. Lebih dalam bekerja.

Tito juga menjelaskan petugas OP di bawah kewenangan Pemda DIY sebanyak 105 orang bertugas di 41 daerah irigasi.

"Itu sebenarnya msh kurang, kalau dikaitkan perme pu pr pemeiharaan jaringan irigasi, 105 kondisi belum ideal karena ada kisaran 198 yang dibutuhkan," tambahnya.

Sementara itu, perwakilan petani Bantul, Budi Subowo mengatakan pengawasan air menjadi tugas yang penting dan berkaitan dengan bencana.Untuk itu, ia meminta agar fasilitas dan peralatan bagi petugas diberikan dengan baik.

"Sama halnya seperti yang diterima  petugas pemadam kebakaran. Kenapa? Karena tugasnya sama-sama berat, berhadapan dengan bencana. Bisa dalam satu malam lahan pertanian habis. Kita mohon dengan aturan baru  agar kesejahteraan petugas OP ditingkatkan sehingga petani bisa menuntut mereka memberikan pelayanan 24 jam,” katanya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00