Menggali Warisan HB II, Membangun Peradaban

KBRN, Yogyakarta : Bangsa Indonesia sejak masa lalu sebenarnya telah memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang kuat dan adiluhung di berbagai sendi kehidupan, mulai dari masalah politik dan pemerintahan, pertanian, seni budaya yang tidak kalah dengan bangsa-bangsa lain di dunia.  

Berbagai kelebihan yang dimiliki nenek moyang bangsa Indonesia itu, mengemuka dalam kegiatan Webinar Forum Sejarah Jejak Peradaban, Menggali Warisan Membangun Peradaban, Sri Sultan Hamengku Buwono Ke-2, di Studio 1 RRI Yogyakarta, Senin (5/10/2020) siang.

Salah satu narasumber yakni Romo Manu Widyo Seputro yang merupakan trah dari Sultan HB II, pada kesempatan itu mengulas tentang kitab Jawa berjudul ‘Surya Raja’ karya Sri Sultan Hamengku Buwono Ke-2, yang di dalamnya mengupas tentang kearifan seorang Sultan dalam memimpin rakyatnya, tidak hanya dibidang politik dan pemerintahan, tetapi juga masalah lain seperti pertanian, seni dan budaya, termasuk santra dan seni tari.

“Jadi ini (kitab,-red) sebetulnya adalah pedoman, bagaimana seorang raja itu memerintah negerinya dengan baik. Dan apa yang dituliskan oleh Sultab HB 2 ini tidak hanya kehidupan lahiriyah tapi juga yang sifatnya filosofi dan juga spiritual. Jadi beliau itu mengajarkan, menjadi raja itu harus lengkap pengetahuannya,” urainya.  

Menurut Romo Manu, di dalam teks (kitab,-red) ini, HB II sudah menjelaskan dengan mitologi-mitologi, dengan perjalanannya yang ditulisnya menjadi seperti cerita. Akan tetapi teks ini sebetulnya adalah. pengalaman pribadi HB II.

Lebih lanjut, ia menandaskan, kitab-kitab karya pendahulu atau nenek moyang bangsa Indonesia itu perlu diterjemahkan dan disebarluaskan, agar mudah atau bisa dipahami oleh generasi sekarang, dalam rangka menata kehidupan bangsa Indonesia yang lebih baik ke depannya.

“ Teks ini tidak akan lekang oleh jaman. Kalau ini kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, anak keturunan kita besok akan bias membaca ini. Ini menjadi masalah karena bahasanya, bahasa Jawa Yogyakarta itu sulitnya bukan main. Kalau in I bias diterjemahkan, nanti sampai anak cucu itu akan faham. Ternyata nenek moyang saya itu punya pemikiran yang luar biasa, tidak hanya politik,” terangnya.

Romo Manu, berharap kitab tertsebut ke depan mampu membuka cakrawala atau wawasan bangsa Indonesia. Mengingat selama ini, ia menyangkan sikap para pemimpin Indonesia yang tidak memahami ajaran-ajaran luhur para pendahulunya, khususnya menyangkut kebudayaan, sehingga yang terjadi adalah kekisruhan. (yyw).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00