Gelisah Hati si Oemar Bakri

Foto Ilustrasi seorang guru mengajar siswa di dalam kelas

KBRN, Yogyakarta : Sejak tahun 1986, Benekditus Belariantata sudah mengabdi sebagai seorang guru PNS, pada sebuah sekolah di Kabupaten Kulon Progo.

Saat itu, warga Pakem Sleman yang usianya baru menginjak 23 tahun, selalu menempuh rute sejauh 60 kilometer setiap hari, baik ketika berangkat maupun pulang kerja.

Vespa tua keluaran tahun 1964, menjadi alat transportasi satu-satunya kala itu, demi menjalankan tugas mulia sebagai pendidik.

Padahal, gaji awal yang diterimanya hanya Rp 36 ribu sebulan, kemudian seiring waktu berjalan, nominalnya gajinya naik menjadi kisaran Rp 44 ribu sebulan.

Namun, hasil jerih payahnya tersebut, hanya cukup untuk membeli bensin, sedangkan kebutuhan makan dan lainnya masih menumpang pada orang tua, karena saat itu dirinya belum menikah.

Nasib baik mulai terasa, ketika Abdurahman Wahid atau Gus Dur menjadi Presiden RI. Saat itu gaji PNS seperti dirinya, naik menjadi Rp 110 ribu per bulan.

Kemudian pengabdian panjang yang dilaluinya, mengantarkan lelaki yang kini berusia 57 tahun, dan sudah memiliki empat orang buah hati itu, menduduki kursi kepala sekolah di SD Negeri Kaliurang 2 Pakem mulai tahun 2005. Gajinya saat ini mencapai Rp 4,5 juta per bulan.

Tetapi, muncul kegelisahan dalam diri Benekditus, saat melihat fakta yang terjadi di kalangan guru masa kini.

”Kalau guru saat ini, tentu saja bagaimana dia harus memiliki rasa cinta sebagai seorang guru, hal inilah yang perlu ditingkatkan, bukan hanya sekedar mendapat gaji dan status,” katanya, Selasa (24/11/2020).

Jika seorang guru betul-betul mencintai profesi yang dijalani, maka pasti mencintai seluruh anak didiknya, termasuk seluruh proses pembelajaran bagaimanapun kondisinya seperti di masa pandemi ini.

Sebagai seorang senior, ia melihat ada perbedaan dalam memahami profesi sebagai pendidik, antara guru jaman dahulu dengan guru sekarang yang usianya jauh lebih muda.

”Saya rasakan guru jaman dulu dengan gaji sedikit, tetapi sangat menghayati panggilan hati sungguh sangat senang, biarpun gajinya kurang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, namun jarang sekali yang mengeluh,” imbuhnya.

”Kalau saat ini tidak semua bisa seperti itu, sering selalu berhitung uang transport dan honornya berapa kalau ada kegiatan di luar sekolah, padahal fasilitas jaman sekarang lebih baik dari jaman dulu,” papar dia.

Melihat persoalan ini, Benekditus berharap kepada para guru muda, terutama yang berstatus PNS, agar bekerja sebaik mungkin mendidik generasi masa depan bangsa.

Nasib mereka lebih beruntung, jika dibandingkan guru honorer, dengan besaran gaji masih di bawah rata-rata, antara Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu sebulan, yang diambilkan dari alokasi dana BOS.

”Ini sungguh memprihatinkan, mestinya pemerintah bisa mengusahakan gaji guru honor terutama di sekolah negeri, nilainya setara upah minimum kabupaten dan kota,” kata dia. (ws/yyw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00