SMK N 1 Jogonalan Klaten Melaunching Kelas Industri Content Creator

KBRN, Klaten : Di masa pandemi corona, Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 (SMKN 1) Jogonalan, Klaten, Jawa Tengah membuat kelas konten creator, guna mempermudah siswa dalam melakukan pembelajaran di rumah saat pandemi corona.

Kepala SMK N 1 Jogonalan Klaten, Is Hardewi mengatakan, kelas konten kreator ini mmerupakan  kelas khusus untuk materi pembelajaran multimedia. Pembelajaran berupa konten kreator dengan melakukan setingan khusus kelas yang berbentuk penyiaran.

“Di masa pandemi corona ini, saat siswa melakukan belajar daring di rumah, pihak sekolah memutar materi pembelajaran, karena sekolah menengah kejuruan harus mengutamakan pembelajaran secara praktek,” tandasnya, Jumat (20/11/2020).

Menurut Is Hardewi, dengan adanya pembelajaran content creator untuk siswa SMK N 1 Jogonalan Klaten, diharapkan siswa selalu mengikuti pelajaran.

Lebih lanjut Kepala SMK N 1 Jogonalan Klaten, Is Hardewi mengatakan, pembelajaran content creator ini melibatkan 11 orang siswa yakni  kelas 2 dan kelas 3 dalam waktu pembuatan selama 15 hari. 

“Tujuan sekolah membuat kelas ini agar siswa mudah dalam pelajaran menggunakan android, materi ini dikemas dalam bentuk digital agar siswa mudah dalam mengakses pembelajaran dari rumah masing-masing,” tandasnya.

Selain itu, tambahnya, pihak sekolah juga membuat buku digital yang nantinya siswa hanya melakukan scan di bardcode di cover buku tersebut. Dalam membuat buku digital ini berkerja sama dengan puskesmas setempat tentang materi tersebut.

Sementara itu Pejabat Sementara  (Pjs) Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Fatmaningrum mengatakan, dengan adanya launching ini merupakan tanggung jawab sekolah, yakni bagaimana guru dan siswa membentuk suatu konsep industri di sekolah.

Dengan konsep industri sekolah, lanjutnya, ada penyelarasan kurikulum yang ada sehingga anak anak lulusan kelas industri benar-benar tangguh kelas industri.

“Dengan harapan  anak-anak  terutama untuk uji program multimedia ini tidak ada yang menganggur. Jadi paling tidak tamatan sudah terserap di dunia industri.

Fatmaningrum menyatakan, pihaknya sangat mensupport kegiatan ini, sehingga dengan demikian anak-anak lulusan SMK diharapkan tidak ada yang menganggur.

“Kalau dia (siswa,-red)  tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi ya dia bisa bekerja. Anak-anak Juga bisa berkompetensi lagi untuk meningkatkan kompetensinya sehingga kompetensi yang dimiliki anak-anak ini benar- benar tersalurkan,” pungkasnya. (yon/yyw).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00