Tolak UKT, Mahasiswa UNY Gelar Aksi Protes

Aksi Protes Mahasiswa UNY Tolak UKT

KBRN, Yogyakarta : Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), menuntut pembatalan kebijakan Uang Kuliah Tunggal (UKT).

Dampak ekonomi akibat Pandemi Covid-19, sangat memberatkan mereka, jika masing-masing harus membayar biaya kuliah, sebesar 500 ribu hingga di atas enam juta rupiah.

Abe, salah satu mahasiswa yang memprotes penerapan UKT menilai, kebijakan itu tidak tepat.

”UKT tidak ada pemotongan 50 persen dan pembebasan, padahal ekonomi baru turun keseluruhan, di orang tua mahasiswa dan sebagainya, sudah susah sekarang,” kata Abe.

Sebagai bentuk protes, di tengah pandemi covid yang belum usai, Abe dan ratusan mahasiswa UNY penentang kebijakan UKT, Jumat (3/7/2020), melakukan Aksi Festival di depan gedung rektorat.

Spanduk Protes Mahasiswa Tolak UKT di Gerbang Kampus UNY

Mereka menggelar pentas musik dan pentas seni, juga melakukan Ibadah Sholat Jumat berjamaah dengan berpakaian hitam.

Aksi tersebut sebagai respon, setelah beberapa kali gagal mendesak rektor membatalkan UKT. Hal ini menjadi konsekuensi logis, atas sikap rektor yang tidak memenuhi tuntutan mahasiswa.

”Kalau rektor memenuhi tuntutan mahasiswa, kita tidak turun ke jalan, kami lebih khawatir kalau orang tua tidak bisa membayar UKT,” imbuhnya.

Kampus Cari Solusi

Menanggapi tuntutan mahasiswa, Wakil Rektor UNY Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Profesor Anik Ghufron menegaskan, jika pemberlakukan UKT ini sudah sesuai ketentuan yang berlaku.

Pihaknya hanya mengikuti rekomendasi dari Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri (PTN), termasuk arahan para dosen, juga arahan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Namun, sesuai arahan dari pusat, tetap ada solusi bagi mahasiswa.

”Ini tadi juga baru ada surat edaran dari Pak Menteri, mahasiswa yang betul-betul terdampak pandemi dan tidak bisa membayar akan dimasukkan dalam program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah,” terang Ghufron.

Suasana Aksi Protes Mahasiswa UNY

Secara teknis, Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan dan Kerjasama UNY, Setyo Budi Takarina, menjelaskan penyaluran KIP Kuliah untuk membayar UKT mahasiswa.

”Misalnya mahasiswa UKT-nya tiga juta rupiah, lalu dibantu KIP dapat 2,4 juta rupiah, UNY jadi kurang 600 ribu rupiah, tidak apa-apa dari pada mahasiswa tidak bisa kuliah,” ucap dia.

Tetapi kata dia, alokasi anggaran dari program KIP Kuliah tidak diserahkan langsung kepada mahasiswa yang berhak, tetapi diberikan kepada perguruan tinggi, sebagai ganti pembayaran UKT.

Saat ini, UNY memiliki sistem untuk menyaring mahasiswa, yang berhak mengakses KIP kuliah untuk membayar UKT.

Jika orang tuanya korban PHK, harus menyertakan surat keterangan dari perusahaan. Namun jika perusahaan tutup, bisa menyerahkan surat keterangan lurah atau kepala desa. (ws/yyw).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00