Ada Kerumunan Saat PTM Terbatas, Sekolah Perlu Agen Perubahan Perilaku

Suasana PTM Terbatas
Suasana PTM Terbatas

KBRN, Yogyakarta : Pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di tengah pandemi Covid-19 membutuhkan pencermatan agar tidak terjadi penularan.

Perlu pemantauan setiap saat oleh tim khusus yang beranggotakan guru dan siswa agar tidak muncul klaster penularan COVID19 dari kegiatan PTM.

Wakil Kepala Disdikpora DIY, Suhirman mengatakan, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY telah meminta kepada semua sekolah untuk membentuk tim agen perubahan perilaku, untuk mengingatkan anggota sekolah, siswa maupun guru yang melanggar protokol kesehatan saat dilaksanakannya pembelajaran tatap muka (PTM).

“Kita sudah sampaikan ke sekolah untuk membentuk tim agen perubahan, tiap anak yang tidak tepat perilaku ada yang mengingatkan, misalnya tidak cuci tangan dan tidak makai masker, tim dari siswa dan guru yang mengingatkan,” kata Suhirman, Wakil Kepala Disdikpora DIY, Rabu (20/10/2021).

Selain membentuk tim agen perubahan, Disdikpora DIY juga menggandeng para dokter muda yang sebelumnya bergabung dalam tim penebalan nakes, bertugas memantau pasien isoman untuk beralih peran melakukan sosialisasi perubahan perilaku di sekolah selama pandemi Covid-19.

"Sebelumnya kan para dokter muda itu tergabung dalam penebalan tenaga kesehatan (nakes) atau tim pemantau pasien yang melakukan isolasi mandiri (Isoman), namun karena kasus COVID19 melandai, tim tersebut diberdayakan ke sekolah-sekolah. Saat ini, sudah ada sekitar 50 sekolah yang didatangi dokter muda dalam sosialisasi perubahan perilaku ini,” terang Suhirman.

Suhirman menambahkan sejauh ini masih ada beberapa sekolah yang belum menggelar PTM karena syarat vaksinasi masih belum mencapai 80%. Sementara terkait pelaksanaan PTM, sejauh ini tidak ada kendala berarti dan tidak ditemukan adanya penularan Covid-19. Hanya saja ada beberapa catatan yang perlu diperbaiki oleh sekolah, yakni kerumunan saat siswa akan pulang setelah selesai menjalani PTM.

“Yang perlu dievaluasi ada kerumunan anak, harusnya langsung pulang tapi masih berkerumun. Yang kita evaluasi yang kerumunan. Kami berharap kerumunan tersebut dapat diselesaikan oleh agen perubahan perilaku yang dibentuk sekolah," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00