Takut Korona dan Karena Sakit, 70 Siswa Tidak Ikut Belajar Tatap Muka

Para siswa SMK Negeri 1 Depok Sleman pulang ke rumah masing-masing, usai mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah, Senin (19/4/2021)

KBRN, Yogyakarta : Alfilaili seorang siswi berkerudung putih usia 16 tahun, terlihat mencuci tangan menggunakan sabun, pada sebuah wastafel di hari Senin (19/4/2021).

Pelajar kelas 10 SMK Negeri 1 Depok Sleman itu, selesai mengikuti Pembelajaran Tatap Muka selama tiga jam, sejak pukul 07.30 WIB hingga 10.30 WIB.

Baginya, bisa kembali belajar di kelas terasa menyenangkan, setelah setahun terakhir ini, dia merasa bosan mengikuti pembelajaran daring akibat pandemi korona.

”Di sekolah bisa bertemu teman dan guru-guru, kalau belajar daring terus-menerus materinya belum tentu bisa paham,” katanya.

Pada hari pertamanya belajar di kelas, Alfilaili mengikuti pelajaran Seni Budaya, Administrasi Umum, juga Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan (PJOK).

Tidak lupa, dirinya juga menerapkan protokol kesehatan ketat, untuk mencegah paparan Covid-19, yaitu dengan memakai masker, membawa hand sanitizer dan menjaga jarak.

Total siswa kelas 10 dan 11 di SMK Negeri 1 Depok, mencapai 324 orang. Jumlah itu dibagi dua, sehingga pada hari pertama ada 162 peserta, meski 70 diantaranya tidak bisa ikut.

”Yang 30 siswa belum boleh sama orangtuanya sehingga ijin dan tetap belajar di rumah, yang 40 sakit tapi sakit biasa seperti flu,” kata Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Depok Suprapto.

Di sekolah tersebut, pembelajaran tatap muka berlangsung dua kali tanpa istirahat. Shift pertama pukul 07.30 WIB sampai 10.30 WIB, dan shift kedua pukul 08.30 WIB sampai 11.30 WIB.

Skemanya dilaksanakan secara on off setiap hari, sebagian siswa masuk namun sebagian belajar di rumah. Misalkan senin masuk, hari selasa off dan seterusnya, ada siswa yang dapat tiga hari, ada juga yang dua hari masuk.

Agar tidak terjadi kerumunan, sekolah menempatkan petugas di sejumlah titik, yang mengatur siswa saat datang maupun pulang. Saat datang ada pengukuran suhu tubuh.

Siswa yang pertama kali masuk kelas duduk di bangku belakang, kemudian yang datang berikutnya menyesuaikan. Ketika mereka pulang, ada pengaturan agar tidak saling melewati bahkan diawasi petugas yang siap di bagian tangga dan pintu.

Setiap kelas maksimal diisi 18 orang siswa, atau 50 persen dari jumlah siswa satu kelas sebanyak 36 orang, jika kondisi belajar mengajar normal. Bagi siswa yang belajar di rumah, mengikuti pembelajaran jarak jauh secara daring.

Untuk memastikan siswa yang masuk terbebas dari paparan Covid-19, pihak sekolah kata Suprapto melakukan screening dengan bertanya langsung ke peserta didik.

”Apakah di lingkungan tempat tinggalnya ada yang kena covid, ketika ada otomatis orang tua tidak mengijinkan anaknya masuk,” ucapnya. (ws/yyw)  

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00