Coreng Jogja Sebagai Kota Pendidikan, JCW Nilai Penonaktifan Tidak Cukup

ilustrasi pelaksanaan ASPD

KBRN, Yogyakarta : Hasil temuan Tim Pencari Fakta (TPF) atas dugaan bocornya soal mata pelajaran Matematika di SMP N 4 Depok Sleman cukup mencengangkan.

Mengingat bocorkan soal Matematika pada ujian Asesmen Standar Pendidikan Daerah (ASPD) yang berlansung pada 5-8 April 2021 lalu, terbukti melibatkan Kepala Sekolah SMP N 4 Depok Sleman dan guru mata pelajaran Matematika.

Sanksi yang dijatuhkan dengan menonaktifan selama dua pekan, diungkapkan Kepala Divisi Pengaduan Masyarakat dan Investigasi Jogja Corruption Watch, Baharuddin Kamba, dirasa tidak cukup dan tidak adil.

"Sanksi pemberhentian secara tidak hormat dapat diberikan, selain itu proses pidana umum harus dijalankan tidak cukup sanksi administrasi," katanya, Selasa (13/4/2021).

Sebagai salah satu orang tua dari siswa kelas IX, Kamba mengungkapkan, perbuatan kepala Sekolah SMP N 4 Depok Sleman dan guru mata pelajaran Matematika tidak mencerminkan seorang pendidik, mencoreng Yogyakarta sebagai kota pendidikan, merendahkan nilai-nilai kejujuran.

Menurutnya, dengan terbuktinya Kepala Sekolah SMP N 4 Depok Sleman dan guru mata pelajaran Matematika membocorkan soal tidak saja melanggar pakta integritas dan kode etik pendidikan.

"Sama saja tidak menghargai usaha para orangtua, seperti mengikutsertakana anaknya untuk mengikuti bimbingan belajar yang tentunya dengan biaya yang tidak murah," ungkapnya.

Terkait dengan temuan TPF atas dugaan bocor soalnya mata pelajaran Matematika di SMP N 4 Depok Sleman, saya sebagai orangtua salah satu siswa kelas IX dan sebagai kepala divisi pengaduan masyarakat dan Investigasi Jogja Corruption Watch menyampaikan hal sebagai berikut:

Meski demikian, Baharuddin Kamba mengapresiasi kinerja TPF atas kasus ini.

"Kasus ini harus diusut tuntas. Apakah ada keterlibatan pihak lain dalam tanda kurung turut serta dalam kasus ini," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00