Tamansari Dibuka, Pelaku Wisata Harus Jamin Protokol dan Kenyamanan

KBRN, Yogyakarta : Sejumlah obyek wisata (obwis) unggulan di Yogyakarta mulai kembali dibuka atau menggeliat setelah dipaksa rehat akibat adanya pandemi. Termasuk di antaranya situs cagar budaya Tamansari yang berdekatan dengan keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Situs cagar budaya yang mulai dibangun tahun 1758 itu kembali beroperasi, Rabu (08/07/2020) dan dibuka langsung oleh Wakil Walikota (Wawali) Yogyakarta Heroe Purwadi. Ketika membuka operasional Tamansari, Heroe Purwadi menekankan pentingnya memberi rasa aman dan nyaman wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata.

“Rasa aman dan nyaman itulah yang dicari. Kalau orang melihat ada kerumunan yang tidak tertib, saat ini saya yakin mereka akan membatalkan masuk ke obyek wisata itu, karena saat ini keamanan dan rasa nyaman adalah nilai yang paling penting dalam masa pandemi,” katanya.

Salah satu terobosan yang dilakukan adalah dengan memperkenalkan penggunaan Quick Response atau QR Code bagi pengunjung. Lewat QR Code atau barcode tersebut, pengelola obyek wisata dan Pemkot lebih mudah melakukan pelacakan (tracing) apabila terjadi transmisi penularan Corona Virus Disease Covid-19. Wawali menekankan protokol dan inovasi yang dilakukan akhirnya bertujuan demi memberi rasa aman dan nyaman bagi wisatawan.

“Itu adalah rasa secure  yang harus kita ciptakan. Kalau kita gagal menciptakan itu, nah itu kegagalan kita mempromosikan rasa aman dan nyaman itu,” tambah Wawali.

Heroe Poerwadi menambahkan pelaku pariwisata harus bisa menyelaraskan antara kepentingan ekonomi dan perlindungan kesehatan di masa pandemi saat ini. Menjalankan protokol kesehatan menjadi sebuah keharusan agar tak timbul transmisi bahkan klaster baru ketika sektor pariwisata kembali menggeliat.

“Kehidupan ekonomi penting, tetapi juga jauh lebih penting kehidupan kesehatan kita tetap dijaga. Sehingga bukan salah satunya dikalahkan, tetapi semuanya harus didahulukan. Tidak ada gunanya nanti kalau kita buka (pariwisata), jangan sampai nanti ada klaster Tamansari,” paparnya.

Maksimal 500 pengunjung

Ibnu Titian, koordinator paguyuban pelaku wisata Tamansari yang juga Ketua RW 08 Kampung Taman Kecamatan Kraton Kota Yogyakarta mengungkapkan, sebelum resmi dibuka kembali, para pelaku wisata terlebih dahulu mengadakan simulasi implementasi protokol kesehatan di kompleks Tamansari. Termasuk uji coba penggunaan QR Code bagi yang hendak masuk ke situs cagar budaya seluas kurang lebih 10 hektar tersebut.

“Ya ini pakai QR Code. Maksimal di dalam sampai 500 orang. Kalau sudah 500 pengunjung yang masuk, nanti ada rekan kami di dalam pakai HT (handy talkie) yang menginformasikan sudah ada yang keluar, baru yang di sini pengunjung baru masuk,” terangnya.

Lukman Hakim Sanusi, pengunjung dari Brebes Jawa Tengah, mengaku mengetahui pembukaan kembali obwis Tamansari dari berita di media massa. Dirinya sangat senang dengan dibukanya kembali taman dan sekaligus kebun milik keraton itu.

“Untuk dibukanya wisata Tamansari ini saya merasa senang, karena seperti kita tahu kondisinya masih belum stabil, dan masih dalam percobaan untuk new normal, saya senang bisa jalan-jalan kembali,” tutur mahasiswa asal Brebes itu.

Beberapa protokol kesehatan yang diterapkan di Tamansari mulai dari pemeriksaan suhu tubuh, penyediaan sarana cuci tangan, pemasangan QR Code atau barcode bagi pengunjung, sampai pendampingan pemandu wisata yang dibatasi satu orang pemandu untuk 10 orang pengunjung.

“Alhamdulillah, Tamansari sudah buka kembali, semoga pandemi cepat hilang dan kami bisa mencari tambahan rezeki di sini,” ujar Widiastuti pedagang makanan di kompleks wisata Tamansari. (ros/yyw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00