Investor Dinilai Membantu Menyelesaikan Masalah Desa Wisata

KBRN, Bantul : Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih mendorong adanya investor di bidang pariwisata. Hal ini untuk mengatasi masalah status lahan desa wisata yang selama ini banyak ditemukan di Bantul. Halim mengakui desa wisata berbasis masyarakat atau Community Based Tourism (CBT) memang banyak berkembang belakangan ini.

Namun, pemerintah kesulitan untuk memberikan bantuan kepada para pengelola ini. Karena legalitas tanah yang mereka gunakan. Di mana banyak di antara mereka yang menggunaka n tanah milik pribadi dalam pembuatan obyek wisata. Sementara dari sisi aturan, menurut Halim, hal ini tidak boleh dilakukan.

“Ini salah satu problem, kita harus cari solusi atas masalah-masalah ini, di Batu Kapal juga begitu. Sebagian lahannya itu milik masyarakat, sementara Pokdarwis meminta Pemda untuk membantu bangun sarana wisata di sana. Ini repot kami ingin bantu tapi aturan tidak memungkinkan,” jelasnya pada Senin (29/11/2021).

Dalam hal ini investor, menurut Halim, berperan penting. Karena mereka bisa membantu mengelola desa wisata itu dengan membangunkan berbagai sarana fisik. Namun, masyarakat menurutnya tetap harus diberdayakan dan mendapatkan keuntungan,

“Maka jangan anti investasi, kalau anti, banyak yang tidak bisa kita atasi sendiri. CBT tetap kita kembangkan, hal-hal yang mungkin kita kerjasamakan dengan investor itu ya harus dibuka kemungkinan itu,” ujarnya.

Dalam waktu dekat ini, Pemkab akan mengumpulkan lurah di seluruh Bantul untuk menyelesaikan masalah tanah kas desa yang digunakan untuk pengembangan desa wisata. Bisa melalui Badan Musyawarah Kalurahan bersama para lurah untuk bersepakat bahwa lahan yang digunakan ditetapkan oleh desa sebagai tempat pariwisata atau CBT.

Termasuk memperoleh izin dari Gubernur tentang alih fungsi lahan, karena rata-rata menurutnya belum mendapatkan izin dari Gubernur. Dari situ pemerintah kemudian bisa menindaklanjuti dengan membantu membangun sarana dan prasarana yang dibutuhkan. (dev)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar