Pemulihan Pariwisata Andalkan Wisatawan Nusantara

ilustrasi obyek wisata di Hutan Pinus Imogiri Bantul

KBRN, Sleman : Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, mengatakan pengembangan wisata sungai bisa menjadi alternatif di Indonesia. Mengingat wisata sungai ini memiliki daya tarik tersendiri.

“Karena kalau melihat di kota-kota besar dunia dengan kunjungan wisata tertinggi biasanya selalu ada sungai. Paris ada sungai, London ada sungai, Bangkok dan lain-lain," katanya dalam sambutan talk series #10 yang digelar PIU UGM, Kamis (30/07).

Menurutnya, Indonesia  memiliki potensi besar wisata sungai dan bisa dikembangkan lebih maju lagi dari yang ada saat ini. Dengan wisata, sungai juga menurutnya akan terjaga kebersihannya dan bisa memberikan penghasilan untuk masyarakat.

Sandiaga mengakui pandemi Covid-19 berdampak negatif secara global di sektor pariwisata, dengan penurunan hampir 90 persen. Sementara Indonesia masih diuntungkan dengan adanya wisatawan domestik. Sementara pertumbuhan jumlah wisatawan mancanegara minusnya mencapai 75 persen.

“Januari 2021 turun lagi menjadi 89 persen. Tapi semenjak saya bertugas di Bali sebelum PPKM level 4, pertumbuhan wisatawan nusantara naik empat kali lipat,” lanjutnya.

Menparekraf menyebut di Yogyakarta ekonomi di kuartal I sudah 4 persen dan tingkat keterisian  di Yogyakarta dan Borobudur bahkan ada yang meningkat hingga 50 persen. Antusiasme wisatawan nusantara di seputar Borobudur meningkat dengan kegiatan berolahraga seperti yoga dan bersepeda. Sehingga ia menilai ini sebagai peluang, karena 34 juta masyarakat Indonesia bergantung pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Sementara wisatawan mancanegara belum bisa diandalkan maka ya ke wisatawan nusantara. Cina jatuh hingga 90 persen, demikian pula Singapura. Kita harus melakukan transformasi sehingga wisatawan nusantara yang sebelumnya dipandang sebelah mata sekarang kita fokuskan karena mampu spending 11 miliar dolar per tahun. Mari kita alihkan kesana untuk pemulihan,” urainya.

Hal senada disampaikan Muhammad Sidiq Wicaksono, Kepala Laboratorium Pariwisata, Koordinator enter of Excellent Tourism and Culture Sekolah Vokasi UGM. Menurutnya, dalam situasi seperti ini, sektor pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia harus siap dengan era kenormalan baru. Sehingga diperlukan penanganan prokes yang cukup ketat dengan berbagai standar yang harus dilaksanakan.

“Karenanya kita membuka diri, berharap kolaborasi antara perguruan tinggi dan beberapa unsur pentahelix guna menciptakan karya produk inovatif di era kenormalan baru untuk membangkitkan pariwisata," ucapnya. (ril/dev)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00