Distribusi Beras Belum Untungkan Masyarakat, Taru Martani Siap Kelola Pangan DIY

diskusi ketersediaan dan ketahanan pangan di kantor Taru Martani
Taru Martani

KBRN, Yogyakarta : Hasil produksi beras DIY saat ini banyak yang dikirim ke luar daerah. Di lain pihak, beras yang beredar di DIY termasuk pemenuhan sembako program BPNT justru menggunakan beras dari luar daerah. 

Direktur Utama Taru Martani, Nur Achmad Affandi mengatakan perputaran itu membuat harga beras tidak stabil, cenderung tinggi karena rantai distribusi yang panjang. Disisi lain, harga di tingkat petani juga tidak naik. Yang mendapat untung tinggi justru distributor. 

"Banyak penggilingan padi DIY itu supplier luar kota. Di Bantul ada yang supplay 100 ton keluar DIY. Sementara itu, BPNT DIY justru ambilnya daru luar DIY, dari Boyolali, Sragen. Ini akibat komoditas pangan pokok beras ini, tidak dikelola dan diatur oleh pemerintah. Jadi hanya berputar, dan dampaknya harga tinggi. Yang menikmati untungnya pengusaha, para distributor, bukan petani," jelas Nur Ahmad Affandi, Direktur Utama Taru Martani, pada diskusi ketersediaan dan ketahanan pangan di kantornya, Sabtu, (4/7/2020). 

Nur menambahkan hasil produksi beras petani DIY sebenarnya mampu mencukupi kebutuhan masyarakat DIY.

"Jumlah kebutuhan beras di DIY sebanyak 1360 ton per bulan. Kalau kita hitung dari luasan lahan dikalikan produksi semestinya cukup itu," tegasnya.

Dijelaskannya, peran pemerintah sangat diperlukan dalam pengelolaan pangan, agar bisa dikendalikan, dan terwujud kedaulatan. Pemerintah dalam hal ini, dapat melalui BUMD, PT Tarumartani.

PT Tarumartani, BUMD yang sebelumnya mendapat perintah menyimpan cadangan pangan, siap dan sanggup jika diberikan surat tugas dari Pemda DIY untuk secara khusus membuka unit usaha baru berkaitan dengan diversifikasi pangan. Sehingga bisa mengelola pangan dari hulu sampai ke hilir. 

Pengelolaan pangan dari hulu sampai hilir yang terintegrasi itu diyakini mampu menstabilkan harga, dan mewujudkan kedaulatan pangan di DIY. 

"Prinsipnya kami siap jika ditugasi, kalau di 2019 memang kami belum menyanggupi, tetapi saat ini kami siap untuk mengembangkan unit diversifikasi pangan. Kami yakin mampu. Saat ini PT Tarumartani memiliki empat gudang dengan kapasitas masing-masing gudang sebanyak 600 ton. Adapun jumlah simpanan beras saat ini sebanyak 326 ton beras standar medium dari Pemerintah Provinsi, Kabupaten Sleman dan Pemerintah Kota Yogyakarta. Artinya kapasitas gudang di Tarumartani masih sangat mampu untuk menampung simpanan," jelasnya.

Nur Ahmad Affandi mencontohkan DKI Jakarta telah sukses melakukan integrasi ketersediaan dan ketahanan pangan. Padahal DKI Jakarta, hanya memiliki pasar saja, tidak memiliki sumber penyedia bahan dalam hal ini petani beserta lahan pertaniannya. 

"Lha di Jogja itukan punya pasar, punya petani. Pasarnya butuh ketersediaan dan butuh harga yang terjangkau, kemudian petaninya butuh hasilnya bagus dan bisa diserap. Kalau itu terintegrasi saya kira semua uang yang beredar aman, hasil pertanian mulai dari proses on farm sampai off farm terkontrol dengan baik dan endingnya terpenuhinya kebutuhan pangan DIY. Pemerintah harus turun tangan. Kami Tarumartani siap untuk itu," urainya.

Ditambahkannya, dalam pengelolaan ketahanan pangan, Pemda DIY perlu membuat regulasi yang jelas dan pasti. Kolaborasi dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) perlu dilakukan agar tercapai kesejahteraan masyarakat yang terlibat di dalamnya.

"Jadi kalau kami diserahi tugas ya harus ada regulasi yang memastikan bahwa pasar itu harus menggunakan hasil industri tani yang ada di DIY. Paling tidak diserap oleh pasar yang kewenangannya ada di Pemda seperti kebutuhan untuk Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) atau kebutuhan Aparatur Sipil Negara (ASN). Kulon Progo sepertinya yang sudah menerapkan hal itu, sangat bagus kalau se DIY seperti itu," lanjutnya.

Sementara itu, Anggota Komisi B DPRD DIY, Nurcholis Suharman mendukung penambahan kewenangan BUMD DIY, PT Tarumartani dalam pengembangan dan ketahanan pangan di DIY, tidak sebatas menyimpan cadangan pangan. 

"Saat ini sebagai pabrik cerutu internasional, Taru Martani telah memiliki keuntungan dan dana yang cukup. Sehingga bisa mengembangkan sektor lain, dalam hal ini pangan. Sehingga harapan kami, tidak hanya sebagai tempat titipan bahan pangan saja, tetapi sudah saatnya Tarumartani juga diberikan tugas diversifikasi pangan, supaya bisa mengelola pangan di DIY dari hulu sampai ke hilir secara terintegrasi, dan berdampak pada kesejahteraan rakyat, serta terwujudnya kedaulatan pangan di DIY," katanya. (wur/ian)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00