Penuhi Kebutuhan Nangka Untuk Gudeg, DIY Kembangkan Hutan Tematik Nangka

Dok Humasjogja

KBRN, Yogyakarta : Gudeg merupakan makanan khas tradisional Yogyakarta dan telah masuk dalam daftar Warisan Budaya Nasional (WBN) sejak Oktober 2015 silam.

Namun ternyata, selama ini, pasokan nangka untuk produksi gudeg, justru didatangkan dari luar DIY, salahsatunya Lampung.

Kondisi itu, memicu DIY untuk mengembangkan hutan tematik tanaman nangka di lahan seluas 96 hektar di Gunungkidul.

GKR Hemas pun turun langsung menanam pohon nangka bersama dengan Sekertaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bambang Hendroyono, Bupati Gunungkidul Sunaryanta dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kuncoro Cahyo Aji, di area Hutan Tematik Wana Boga, Candi, Karangmojo, Gunungkidul, DIY, pada Sabtu (2/10/2021).

Menurut GKR Hemas, masyarakat DIY membutuhkan nangka untuk memasok bahan baku gudeg sebagai makanan yang menjadi salah satu ciri khas DIY.

Hal inilah yang mendasari dikembangkannya plasma nutfah nangka, melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY.

“Saya ikut merasa senang, bangga, karena saya sudah ikut melihat dari kebutuhan masyarakat Jogja tentang nangka. Itu untuk Gudeg yang ada di Kota Jogja. Ternyata, setelah saya berkunjung ke pasar buah, itu nangka yang ada di 3 kios, semua nangkanya seko (dari) Lampung. Lha iki kan lak kebangeten to (ini kan kebangetan), jadi saya kira memang sudah menjadi kewajiba Pemerintah Daerah DIY untuk membangun dan didukung oleh Pemerintah Pusat,” kata GKR Hemas.

GKR Hemas juga berpesan bagi para perempuan yang bekerja di Hutan Tematik itu, agar selalu merawat, mengelola, serta mengolah dengan baik.

Hal ini mengingat pengembangan plasma nutfah di Gunungkidul ini sangat penting bagi kelangsungan ekonomi masyarakat. Penanaman nangka di lokasi ini karena memang mampu tumbuh lebih baik daripada di tempat lain.

“Betul-betul saya ingin ibu-ibu atau perempuan-perempuan yang ada disini, ikut terlibat. sehingga akan semakin kuat dalam pengelolaan yang dilakukan oleh Departemen Kehutanan ini yang berbasis pemberdayaan masyarakat. Saya tidak akan muluk-muluk untuk matur yang penting harus dijaga oleh warga juga. Ini adalah kerja bersama yang benar-benar harus dilaksanakan oleh masyarakat Gunungkidul,” pesan GKR Hemas.

Sementara itu, Sekertaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI, Bambang Hendroyono menyatakan sangat mengapresiasi dan mendukung upaya DIY dalam meningkatkan pemanfaatan hutan. Nantinya, 25.000 bibit nangka akan disumbangkan oleh KLHK RI untuk ditanam di area hutan tersebut. Secara teknis, bantuan bibit nangka ini akan mulai didistribusikan pada 28 November 2021 mendatang.

" Beberapa jenis akan ditanam di Plasma Nutfah Nangka ini yaitu jenis nangka sayur guna mendukung penyediaan bahan baku gudeg khas Yogyakarta, dan nangka jenis buah yang bisa langsung dikonsumsi. Kualitas bibit sangat baik, dipastikan bisa cepat berbuah pada usia kurang dari 3 tahun," terangnya.

Bambang menambahkan selama ini  hasil hutan identik dengan kayu keras, seperti kayu jati. Namun, kini ada juga hasil non kayu kayu yaitu pohon buah-buahan.

"Tidak kalah penting kebijakan pemanfaatan jasa lingkungan, nah disitulah kemudian jasa wisata dan menyatu dengan kehidupan masyarakat di areal hutan produksi yang tersebut,” jelasnya.

Bambang juga berharap, upaya pengembangan hutan di Hutan Tematik Wana Boga ini mampu meningkatkan pendapatan masyarakat dan memulihkan ekonomi. Upaya ini sangat baik untuk memulihkan lingkungan dan memulihkan fungsi hutan bagi kesejahteraan masyarakat.

“Ini akan menjadi salah satu upaya pelaksanaan rehabilitasi hutan dengan pendekatan masyarakat. Selanjutnya ini juga bisa menjadi pusat pengembangan teknologi tanaman kehutanan. Kita harap DIY akan mampu kembali menjadi percontohan bagi provinsi lain dalam mengembangkan hutan tematik,” harap Bambang.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala DLHK DIY, Kuncoro Cahyo Aji menjelaskan, Hutan Wana Boga ini nantinya akan diberdayakan seluas 96 hektar untuk menjadi laboratorium nangka di Indonesia. Dari jumlah itu, 56 hektar akan pergunakan sebagai hutan produksi nangka. Keberadaan hutan tematik ini menambah jumlah keseluruhan hutan tematik di DIY menjadi 11 tempat, dan sudah didaftarkan sebagai kearifan lokal DIY.

“Hutan tematik kita ada diantaranya wana wisata di daerah Mangunan, kemudian ada Wana Kriya, kemudian juga ada wana Husada nanti dibeli barang jadi di sana sudah ada kayu putih, madu. Juga termasuk di kawasan Lereng Merapi, di sana ada hutan dan kami berharap untuk bisa menjadi satu kesatuan dengan TNGM nanti juga akan kami tanami untuk pohon-pohon langka, misalnya kemenyan dan lain sebagainya,” jelas Kuncoro.

Selain di tempat-tempat tersebut, juga akan ada pengembangan hutan mangrove di Baros sebagai  hutan mangrove yang terpadu.

"Selain itu juga akan dikembangkan  wisata kepiting yang nantinya akan dikelola oleh masyarkat sekitar. 11 hutan tematik ini menurut Kuncoro dikelola bersama dengan masyarakat, bekerjasama dengan BUMN dan BUMS dan koperasi, termasuk juga dikerjasamakan dengan pendampingan dan pembinaan langsung dari KPH," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00