Ratmanto: Menyadarkan Warga Soal Sampah Itu Susah

KBRN, Yogyakarta : Tejo usia 35 tahun, mengawasi beberapa orang rekan-rekannya, yang membersihkan timbunan sampah pada sebuah depo kecil, Selasa (22/12/2020).

Pria berkaos putih itu, berdiri pada sudut gapura masuk menuju perkampungan warga di Bausasran Kota Yogyakarta. Tempatnya berdiri, berada di seberang jalan pemukiman depan depo sampah.

Sesekali terdengar canda-tawa diantara mereka. Meski aroma sampah yang tidak sedap memenuhi udara, namun mereka tidak peduli dan terus bekerja.

Sapu lidi bergagang panjang dan garu panjang dari besi, menjadi peralatan andalan para petugas kebersihan berbaju oranye itu.

Campuran sampah yang diambil, berupa dedaunan, plastik, kardus hingga sisa-sisa aktivitas rumah tangga. Sebagian terbungkus dalam kantong kresek, namun ada juga yang tidak.

Beberapa keranjang bambu yang penuh sampah, langsung dinaikkan ke atas bak truk berkapasitas lima ton, yang di dalamnya terlihat penuh muatan.

Begitu isi keranjang bambu kosong setelah ditumpahkan, petugas langsung mengisinya lagi dengan sampah untuk dinaikkan kembali ke atas bak truk.

Aktivitas itu dilakukan berulang kali, sampai tidak tidak terlihat lagi timbunan sampah pada depo kecil yang dibersihkan.

”Ini hanya untuk mengurangi timbunan sampah di pinggir-pinggir jalan agar bersih,” kata Tejo, pengemudi truk sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta itu.

Selain depo kecil di Bausasran, petugas kebersihan juga menyasar puluhan depo sampah lain, baik yang besar maupun kecil dan tersebar mulai dari Jalan Solo hingga Kotagede.

Opsi sementara, sampah yang sudah terkumpul ditaruh di area parkir kantor DLH setempat, menunggu sampai aktivitas di TPST Piyungan kembali normal.

Warga Belum Sadar

Di depo Kotabaru, yang lokasinya persis di belakang Gereja Santo Antonius, timbunan sampah juga terlihat menutupi sebagian badan jalan, namun tidak ditutup menggunakan terpal.

Langkah ini sengaja dilakukan, untuk mengetuk kesadaran warga agar tidak menambah volume sampah yang dibuang.

”Menyadarkan warga itu susah karena semaunya sendiri,” ucap Ratmanto salah satu petugas kebersihan DLH Kota Yogyakarta.

Buktinya, masih ada warga yang diam-diam membuang sampah ke Depo Kotabaru, saat tidak ada petugas jaga di malam hari. Saat TPST Piyungan masih tutup, pihaknya memberi toleransi jika sampah yang dibuang hanya satu atau dua kantong kresek.

Namun untuk armada angkut sampah seperti gerobag dan kendaraan roda tiga, tidak boleh membongkar muatan.

”Kalau sesuai aturan, kendaraan pengangkut sampah seperti Tossa plat hitam harus membuang di TPST langsung,” imbuh dia. (ws/yyw).  

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00